RILIS PERS
AKSI PEMBANGKANGAN SIPIL BERSKALA BESAR
Bandung, 20 Oktober 2020

BANDUNG, BEM KEMA UNPAD – Pada hari Selasa (20/10/2020), aliansi mahasiswa Universitas Padjadjaran yang dikoordinir oleh BEM Kema Unpad kembali turun ke jalan. Aksi ini dimaksudkan untuk menyuarakan aspirasi terkait kekecewaan terhadap DPR dan Pemerintah.

BEM Kema Unpad membawa tuntutan penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja (Ciptaker) yang dinilai merugikan buruh serta menagabaikan dampak negatifnya terhadap lingkungan. Aksi 20 Oktober di Bandung menjadi aksi lanjutan BEM Kema Unpad dari aksi nasional 8 Oktober lalu di Jakarta setelah UU Ciptaker diketok palu pada 5 Oktober 2020 sebagai bentuk pengawalan permasalahan.

Terdapat 5 tuntuan Aliansi BEM Se-Unpad terhadap Omnibus Law antara lain sebagai berikut.

1. Menolak pemberlakuan konsep Omnibus Law di Indonesia

2. Menolak UU Cipta Kerja yang memiliki subtansi yang bermasalah

3. Menuntut pembentukan undang-undang yang sebelumnya direncanakan menggunakan teknik omnibus yaitu RUU kefarmasian, RUU Perpajakan, dan RUU Ibu Kota Negara menjadi undang-undang yang sesuai dengan ketentuan hukum yang diterima secara umum oleh masyarakat Indonesia dan selaras dengan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik

4. Mengecam sikap DPR yang mengesahkan UU Cipta Kerja tanpa memperhatikan aspirasi masyaraka mengenai tuntutan penyusunan materi muatan undang-undang yang melibatkan partisipasi publik, transparan, dan memenuhi rasa keadilan rakyat Indonesia dalam semua bidang kehidupan

Selain membawa tuntutan kepada pemerintah dan DPR untuk membatalkan UU Ciptaker, mahasiswa Universitas Padjadjaran juga hadir sebagai bentuk evaluasi satu tahun masa jabatan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Banyaknya catatan merah terhadap pemerintahan Jokowi periode dua menjadi evaluasi penting yang harus terus dikawal, antara lain minimnya partisipasi publik dalam pembentukan kebijakan, melahirkan UU kontroversial seperti UU KPK, UU MK, dan UU Ciptaker, melanjutkan Pilkada 2020 di tengah pandemi, hingga penanganan COVID-19 yang dinilai masih buruk.

Gambar 1: Massa aksi melakukan briefing sebelum aksi.

Massa aksi mulai berkumpul di titik kumpul pada pukul 09.00 WIB. Persiapan kemudian dilanjutkan dengan briefing sebelum aksi oleh koordinator lapangan, Erlingga Agustiana, tepat pada pukul 12.00 WIB. Massa aksi ditekankan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan sebelum, sesaat, dan sesudah aksi oleh panitia dan juga tim medis. Kemudian, pukul 12.23 WIB massa aksi memulai long march menuju tujuan aksi pertama, yaitu di depan Gedung Sate yang terletak di Jalan Diponegoro, Bandung.

Aksi Indonesia Darurat 2

Gambar 2: Long march menuju titik aksi pertama.

Aksi Indonesia Darurat 3

Gambar 3: Massa aksi sampai di Gedung Sate.

Massa aksi sampai di Gedung Sate pada pukul 13.00 WIB, dengan menyanyikan lagu perjuangan, penyampaian puisi, serta orasi yang dilakukan beberapa mahasiswa sebagai bentuk aspirasi terhadap pemerintah. Pada pukul 13.38 WIB, mobilisasi massa aksi dilanjutkan menuju titik utama, yakni di depan Gedung DPRD Bandung. Terlihat ratusan aparat beserta dua water cannon telah berjaga di dalam gedung, padahal hari itu aksi berlangsung damai yang diselingi oleh penampilan kreatif.

Hujan rintik mulai turun, namun tidak memadamkan semangat perjuangan massa aksi yang dengan orasi terbuka dari Ketua BEM Kema Unpad, Riezal Ilham Pratama, menyuarakan kekecewaan pada pemerintah. Penampilan kreatif berupa teatrikal dilakukan di depan Gedung DPRD oleh massa aksi Unpad yang menggambarkan keadaan negara sekarang. Aksi teatrikal kali ini mendapatkan respons positif dari berbagai kalangan seperti pedagang sekitar Gedung DPRD karena menggambarkan pemerintah yang abai dan tidak mau mendengarkan suara rakyat, warga sekitar pun turut bergabung untuk melakukan orasi bersama.

Aksi Indonesia Darurat 4

Gambar 4: Aksi teatrikal di depan Gedung DPRD Bandung.

Aksi Indonesia Darurat 5

Gambar 4: Rakyat ikut serta menabuh genderang bahaya.

Sekitar pukul 14.35 WIB, massa aksi lain mulai berdatangan dan massa aksi Universitas Padjadjaran berbaur dengan mereka. Massa aksi ditarik mundur menuju gedung Sekretariat IKA Unpad tepat pada pukul 16.00 WIB sesuai dengan arahan saat briefing. Massa aksi tiba di Sekretariat pukul 16.30 WIB sebelum dilakukan pendataan untuk memastikan Kema Unpad yang mengikuti aksi pulang dengan lengkap dan selamat.

Seperti teatrikal yang dilakukan segelintir massa aksi dalam menggambarkan pemerintah yang abai terhadap rakyat, tidak ada satupun perwakilan pemerintah maupun DPRD yang menemui massa aksi pada hari ini. Meski demikian, usaha yang diupayakan tidak boleh surut. Perjuangan tetap harus konsisten dilanjutkan, karena perjuangan belum sampai tujuan. Api perjuangan tidak boleh padam.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!*

Rilis pers Aksi I dapat diakses di sini.