RILIS PERS
AKSI PEMBANGKANGAN SIPIL BERSKALA BESAR
Jakarta, 8 Oktober 2020

JAKARTA, BEM KEMA UNPAD – Pada Kamis (8/10/2020), aliansi mahasiswa Universitas Padjadjaran ikut turun serta dalam aksi turun ke jalan menuju Istana Kepresidenan, Jakarta, dalam rangka pengawalan untuk menolak Undang-Undang Cipta Kerja. Kajian yang sudah dikolaborasikan bersama BEM se-Unpad, sikap bersama, konsolidasi telah dilakukan BEM Kema Unpad, namun Negara selalu abai dalam mendengar aspirasi dari rakyatnya sendiri, maka turun ke jalan menjadi pilihan terakhir.

Turunnya mahasiswa ke jalan merupakan keputusan yang didasarkan atas konsolidasi terbuka bersama Kema Unpad pada 6 Oktober 2020 melalui Zoom. Ada pun 4 poin tuntutan yang dibawa oleh aliansi mahasiswa Unpad adalah sebagai berikut:

1. Menolak pemberlakuan konsep Omnibus Law di Indonesia

2. Menolak UU Cipta Kerja yang memiliki substansi yang bermasalah

3. Menuntut pembentukan undang-undang yang sebelumnya direncanakan menggunakan teknik omnibus yaitu RUU Kefarmasian, RUU Perpajakan, dan RUU Ibu Kota Negara menjadi undang-undang yang sesuai dengan ketentuan hukum yang diterima secara umum oleh masyarakat Indonesia dan selaras dengan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik

4. Mengecam sikap DPR yang mengesahkan RUU Cipta Kerja tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat mengenai tuntutan penyusunan materi muatan undang-undang yang melibatkan partisipasi publik, transparan, dan memenuhi rasa keadilan rakyat Indonesia dalam semua bidang kehidupan

Persiapan aksi dimulai pada dini hari dan keberangkatan berlangsung pada pukul 03.00-04.30 WIB. Berdasarkan formulir yang disebarkan BEM Kema Unpad, sebanyak 300 mahasiswa telah mendaftar. Namun, pada hari pelaksanaan, jumlah massa yang berangkat dari Jatinangor adalah sekitar 90 mahasiswa dengan sisa massa berangkat dari Jakarta dan sekitarnya. Seluruh logistik dan akomodasi dilakukan secara kolektif oleh setiap massa aksi.

Protokol kesehatan yang disiapkan tersusun dalam tiga tahap, yaitu sebelum aksi, saat aksi, dan sesudah aksi. Sebelum aksi, screening terhadap peserta dilakukan untuk menilai risiko diri dan lingkungan. Perlindungan diri pun diwajibkan dengan adanya aturan penggunaan masker dan membawa hand sanitizer. Selain itu, tim penanggung jawab protokol kesehatan yang terdiri dari relawan telah disiapkan untuk memantau peserta hingga 14 hari pasca aksi berlangsung. Untuk protokol pasca aksi sendiri, disifenksi terhadap peserta beserta barang dan kendaraannya akan dilakukan.

Sampai di Jakarta, persiapan dari pihak aliansi mahasiswa Unpad dimulai pukul 10.13 WIB dengan briefing oleh Koordinator Lapangan Virdian Aurellio Hartono. Setelah itu, dilanjutkan dengan orasi terbuka oleh Ketua BEM Kema Unpad Riezal Ilham Pratama di depan Universitas Bung Karno (UBK). Di saat yang sama, arahan Kita Jegal Sampai Gagal dari Kelas dikeluarkan melalui sosial media BEM, bertujuan menggerakkan mahasiswa untuk mengganti latar belakang aplikasi konferensi ketika kuliah atau rapat dengan template yang telah disiapkan BEM Kema Unpad.

foto1

Foto 1: Briefing oleh Koordinator Lapangan di UBK

foto2

Foto 2: Orasi terbuka oleh Ketua BEM Unpad di UBK

Sebelum memulai perjalanan ke Istana Merdeka, rombongan menemui aliansi Fraksi
Rakyat Indonesia (FRI) dan GEBRAK (Gerakan Buruh Bersama Rakyat) di depan Universitas Bung  Karno (UBK). Pada pukul 11.30 WIB, long march ke Istana Merdeka dimulai. Di tengah perjalanan, rombongan Unpad berbaur dengan kelompok mahasiswa lainnya, antara lain Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Siliwangi (Unsil), dan berbagai elemen pergerakan lainnya.

foto3

Foto 3: Long march dari UBK ke Istana Merdeka

foto4

Foto 4: Long march dengan aliansi mahasiswa dari universitas lain sembari memungut sampah

Situasi menuju Istana Merdeka berjalan damai dengan aksi pemungutan sampah bersama rekan mahasiswa lainnya. Orasi dan menyanyikan berbagai lagu perjuangan selama perjalanan menuju Istana. Menjelang sore hari, pada pukul 14.50 WIB, massa telah mencapai Tugu Tani dan beberapa kali terhenti untuk menunggu arahan lanjutan sambil beristirahat.

foto5

Foto 5: Situasi mulai tidak terkendali di daerah Tugu Tani

Pukul 15.43 WIB, aksi mulai tidak terkendali saat timbul bentrok antara peserta aksi dengan kepolisian yang menembakkan dan menyemprotkan air dengan water canon dan gas air mata. Situasi memaksa massa untuk mundur dengan arahan untuk tetap bersama dan kemudian pindah ke titik evakuasi di daerah IKJ. Selama proses evakuasi, massa dipersiapkan untuk berkumpul kembali di daerah Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebelum dipindahkan ke safe house yang difasilitasi oleh IKA Unpad. Ketika situasi sudah cukup terkendali, massa aksi dari Unpad pun dipulangkan sekitar pukul 23.30 WIB.

Aksi yang berlangsung pada hari itu juga diwarnai oleh represifitas oleh aparat. Mulai dari water canon, gas air mata, hingga berbagai video beredar berisi pengeroyokan dan pemukulan oleh aparat kepada massa aksi, hingga mengakibatkan luka luka ringan sampai luka berat. Pasca aksi pun banyak massa aksi yang tidak mendapatkan bantuan hukum dan informasinya dirahasiakan oleh aparat. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan amanah UUD 1945 tentang dijaminnya kebebasan berpendapat, dan Negara harus melindungi segenap tumpah darah Bangsa Indonesia.

Pemerintah dan DPR pun abai terhadap suara rakyat yang lantang terdengar dari penjuru Negeri. Presiden Jokowi tidak sejengkal pun bertemu dengan massa aksi untuk mendengarkan suara mereka secara langsung. DPR juga telah melaksanakan reses, dan kabur dari Gedung tempat RUU Ciptakerja dikebut dan disahkan. Oleh karenanya perjuangan belum tuntas, kami masih mengajak untuk seluruh rakyat Indonesia khususnya Kema Unpad, untuk tidak mengendorkan semangat perjuangan. Sebab apa yang dicita-citakan belum sampai pada akhirnya.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!*

Rilis pers Aksi II dapat diakses di sini.