Oleh: Dhea Apriana

‘Bukan lagi keramaian yang melekat pada lingkungan perkampusan ini, melainkan lengang.’ Ucap dalam sanubari.

Perpustakaan memang berkawan baik dengan atmosfer tenang, namun sarat akan banyaknya pengunjung yang fokus baca dan nugas. Namun kali ini keduanya, sepi di bagian pengunjung dan suara. Terpantau hanya satu dua insan yang menduduki kursi dan berseliweran mendongak mencari buku. Lekas membuka laptop, berkutat, dan pulang sebab jam bukanya pun terbatas. Tidak biasa melihat kampus begitu lengang yang bahkan berisiknya daun kering yang tersapu angin saja begitu nyaring terdengar. Tidak lagi terlihat luapan manusia berebut transportasi umum kampus, indahnya antrean wudhu, dan harum khas berbagai makanan di gerbang lama. Duh, rasanya menggigit perasaan.

Jatinangor menjadi potret cerita dalam buku pengalaman, larik demi larik dan mulai penuh. Sudah satu setengah tahun, para mahasiswa dipulangkan belajar di rumah demi kebaikan. Sebanyak itu pula mungkin nafas ini tidak meninggalkan progress kota ini. Segelintir saja terlihat berseliweran, beberapa mahasiswa tingkat akhir yang berkutat dengan bimbingan. Tidak apa, lumayan menenangkan bahwa ada juga yang masih tinggal di bagian dari kota tahu ini.

Hiruk pikuk sendiri di kota orang memang sebuah perjuangan, apalagi bila ujian datang untuk mendewasakan. Isolasi mandiri sebab terjerat positif Covid-19 pun dilakukan, dengan bimbingan, dan perawatan di asrama Universitas Padjadjaran. Tidak sendiri, banyak teman di antara sekat ruangan, beradu batuk di setiap harinya, berjajar sendu mendapatkan hangatnya sinar matahari. Meski penuh dengan pembatasan, tameng double masker membolehkan untuk bertemu antar penyintas Covid-19, adu cerita pun terjadi. Pada kami antar mahasiswa,

“Apa gejala yang kamu rasain?”

“Aku anosmia, eh kamu engga? Kalau kata dokter di video ini anosmia itu tanda kalau kita bisa cepat sembuh”

“Kalau lihat di internet sih, rasanya virus dalam tubuhku udah jadi bangkai soalnya aku udah ga bergejala ya meskipun hari keempat setelah tiga hari bergejala”

“Tau ga, varian Covid yang sekarang tuh ganas banget ga kenal muda tua dalam merenggut usia.”

Saling bertukar informasi, namun entah bagaimana keberimbangan dan validasinya. Bahkan setelah dua pekan isoman (isolasi mandiri), jajak langkah bergulir menerka pendapat sekitar,

Ah enggak.” Saat diajak untuk mendaftar vaksin.

Neng, kalau di kampung bapak mah, yang penting minum air rebusan beras sama makan sayur-sayur. Kalau vitamin-vitamin mah engga, da penyakit kaya Covid ini jaman dulu juga ada.” Kata bapak bengkel setia menghisap rokoknya.

“Aduh neng, sekarang mah jangan sakit saat pandemi. Nanti kalau periksa ke rumah sakit pasti di-covid-kan.” Di-covid-kan adalah generalisasi pemahaman masyarakat tertentu bahwa bila sakit dan berobat ke rumah sakit di masa pandemi akan langsung terdiagnosis positif Covid-19.

Fakta ini jauh menyesakkan ketimbang sekedar menggigit perasaan melihat lengangnya keadaan. Apalagi didukung dengan abainya masyarakat pada penggunaan masker dan sering berkerumun. Menyiangi buruk sangka dan mengekor pada sebab kuat bisa terdidik pola pikir demikian pada masyarakat maka asumsinya jatuh kepada benang merah informasi. Antara sampai, tidak sampai, atau disalah artikan pada informasi yang datang.

Akses informasi dimudahkan dengan digitalisasi. Mayoritas orang sudah karib dengan sistem ini, apalagi di-support dengan pemberlakuan banyak pembatasan di situasi pandemi ini. Mobiliasasi aktivitas banting setir dalam bentuk virtual dengan bantuan internet. Jelajah safari atau chrome menampilkan rekomendasi macam berita dari aggregator berita yang akan diteruskan pada laman media massa atau media alternatif. Sungguh bukan lagi kita yang mengejar informasi, melainkan sebaliknya. Kurang-kurangnya, panel notifikasi gawai pun penuh dengan judul berita.

Membludaknya informasi terkait pandemic Covid-19 ini dijelaskan badan kesehatan dunia (WHO) dengan terma infodemi. Infodemi dimaknai sebagai informasi yang melimpah yang sebagian akurat dan sebagian lagi tidak akurat sehingga menyulitkan pembaca untuk menemukan sumber yang valid dan dapat diandalkan. WHO menambahkan bila infodemi disebarkan untuk melemahkan respon kesehatan masyarakat demi agenda kelompok atau individu menyebar via online maupun offline.

Cerdas dalam memfilter informasi maka harus siap bersahabat dengan infodemi dan cabangnya supaya bisa jeli membedakan validitas informasi. Dalam kancah informsai dan validitasnya, ada tiga terma besar antara lain: misinformasi, disinformasi dan malinformasi. Ketiganya memiliki tupoksi berbeda yang menguji pembaca untuk cerdas membedakan. Misinformasi dimaknai sebagai sebiah informasi yang salah yang diproduksi tanpa ada niat untuk membahayakan suatu pihak. Misalnya, kampanye imunisasi tanpa informasi yang benar. Disinformasi dimaknai sebagai sebuah informasi yang salah dan sengaja diproduksi untuk merugikan pihak tertentu. Misalnya, mempolarisasi debat publik terkait topik Covid-19 dengan menyebut sebagai konspirasi. Malinformasi dimaknai sebagai sebuah informasi yang nyata yang digunakan untuk merugikan seseorang, kelompok sosial, organisasi, ataupun negara.

Khusus disinformasi, Indonesia masif berperan dibuktikan dengan data dari Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) yang mendata sebanyak 1.548 isu disinformasi terkait Covid-19 beredar di media sosial dalam rentang periode 23 Januari 2020 hingga 26 April 2021 dengan akumulasi 3.225 konten disinformasi, dengan catatan 2.775 kasus telah ditindaklanjuti dan sudah di-take down dari publikasi. Lagi-lagi WHO mengatakan, bilamana infodemi ini tidak segera ditanggulangi maka akan berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental individu, meningkatkan stigmatisasi, mengancam kesehatan, menjadikan abai pada langkah-langkah demi kesehatan masyarakat yang dapat mengurangi efektivitas dan membahayakan kemampuan negara dalam menghentikan pandemi. Sebagai contoh Kominfo menyajikan update per 11 Juli 2021 mengenai penanganan persebaran konten hoax vaksin Covid-19 dalam infografis berikut,

Sumber: kominfo.go.id

Untuk menghadapi infodemi, Kominfo menerapkan trik literasi digital. Dirjen Aptika memiliki pandangan bahwa literasi digital merupakan kunci penting dalam upaya bersama utuk melwan infodemi dan segala cybercrime (kejahatan ruang digital). Penguatannya adalah bahwa, inisiasi literasi digital merupakan koordinasi GNLD Siberkasi, sebuah gerakan kolaboratif antara 108 komunitas, akademisi, dan institusi yang memiliki fokus pada peningkatan literasi digital masyarakat.

Bukan tenaga kesehatan atau produsen informasi yang menjadi garda terdepan pandemi ini. Melainkan diri sendiri, bila nyata sakit dan kepayahan dirasa maka sudah semestinya peka membuat tameng berjaga. Bukankah kehendak menginginkan segera pulih dan normal?

Maka mari sudahi lika liku pandemi ini dengan gairah menjaga diri dan sesama pada pilihan menaati segala regulasi demi kebaikan diri.

Referensi

Herakhshan, W. a., 2017. Information Disorder: Toward An Interdisciplinary Framework for Research and Policy Makin. Strasbourg: Council of Europe.

Ignatidou, S., 2021. Chatham House. [Online]

Available at:

https://www.chathamhouse.org/2021/02/covid-19-pandemic-and-trends-technology/04-infodemic-a nd-covid-19-disinformation [Accessed 27 July 2021].

KOMINFO, 2020. [Online] Available at:

https://www.kominfo.go.id/content/detail/30238/siaran-pers-no-135hmkominfo102020-tentang-had api-infodemi-covid-19-kominfo-gencarkan-literasi-digital/0/siaran_pers [Accessed 27 July 2021].

WHO, 2020. World Health Organization. [Online] Available at:

https://www.who.int/news/item/23-09-2020-managing-the-covid-19-infodemic-promoting-healthybehaviours-and-mitigating-the-harm-from-misinformation-and-disinformation [Accessed 27 July 2021].