Apakah Pancasila itu Bagi Bangsa dan Negara Indonesia ?

Share on facebook
Share on twitter

Apakah Pancasila itu Bagi Bangsa dan Negara Indonesia?

Oleh: Ilham Mukti (FISIP 2017)

Sedari kecil, atau saat menjalani pendidikan formal SekolahDasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas, kita sering ataubahkan selalu diajarkan bahwa Pancasila merupakan ideologibangsa Indonesia yang tak tergantikan. Keberadaannyasakti” di atas sana, dan tidak bisa disentuh, bahkan sampai sekarang. Selalu, Pancasila digambarkan sebagaiideologi‘ yang palingdan sangat ideal untuk diterapkan di Indonesia, disbanding berbagai ideologi lainnya. Kita, bangsa Indonesia, selaluberbangga hati dengan terumuskannya Pancasila, bahwa: Indonesia memiliki ideologi sendiri, sehingga beda dari negara-negara lain; Pancasila sebagai pemersatu bangsa; Pancasila sebagai representatif dari beragamnya suku di Indonesia; dan hal-hal sejenisnya.

Dengan begitu, seolah-olah yang tergambarkan dariPancasila adalah bahwaideologiini HARUS diterapkan, karenaideologi inilah yang paling ideal, dan nantinya disandingkandengan konsep demokrasi. Dibanding melihat Pancasila sebagaiideologi, saya lebih setuju melihat Pancasila sebagai cita-citabangsa Indonesia. Tapi, sepertinya hampir semua negara mencita-citakan keadilan sosial bagi semua rakyatnya, menjunjung tinggi kemanusiaan, kemudian rakyatnya hidupdengan aman dan tenteram. Kalau semua negara menginginkanhal yang sama, lantas apa yang spesial dari Pancasila?

Dalam demokrasi, penyampaian dan perbedaan gagasanatau pandangan adalah sebuah keniscayaan. Atau dengan kata lain, dapat dikatakan demokrasi memperbolehkan paham-pahamlain seperti khilafah, komunisme, fasisme, atau bahkan anti-demokrasi untuk tumbuh di sistemnya. Itu lah uniknya sistemdemokrasi, dengan ke-“gentle”-annya memperbolehkan pahamlain untuk tumbuh dan membiarkan masyarakatnya untukmemilih paham mana yg terbaik bagi mereka. Seolah-olah, demokrasi tau bahwa sistem mereka lah yang paling baik dan pasti dipilih oleh masyarakat.

Akan tetapi, itu semua tampaknya tidak terjadi di negara tercinta kita, Indonesia. Demokrasi di Indonesia, dapat kitakatakan sudahpenuhdengan yang kita sebut Pancasila. Sederhananya, kita ibaratkan demokrasi itu sebagai kertas putih, nah Pancasila sudah mencoret atau mengisi kertas putih tadisecara keseluruhan, sehingga tidak ada ruang lagi bagi paham-paham lain untuk masuk dan berkembang. Ini ditandai dengandilarangnya paham lain untuk tumbuh di Indonesia, sepertikomunisme, marxisme dan baru-baru ini khilafah. Makanyakenapa pemilu 1955 disebut sebagai pemilu paling demokratis di Indonesia hingga saat ini, karena pada saat itu paham-pahamlain belum dilarang dan BOLEH tumbuh untuk dikontestasikandalam pemilu. Berbeda dengan sekarang, dimana partai politikHARUS lah ber-asaskan kepada Pancasila.

Dengan dilarangnya berbagai paham selain Pancasila untukmasuk di Indonesia, itu menandakan bahwa bangsa Indonesia takut untuk merubah Pancasila, atau bahkan keliru dalammemaknai demokrasi. Mungkin, Pancasila sudah terinternalisasipada masing-masing individu, bahwa itu lah yg terbaik. Dan karena yg terbaik, maka kita tidak boleh menanyakanrelevansinya hingga sekarang, padahal zaman terus berkembangdan kita patut menanyakan kembali relevansi Pancasila saat ini.

Leave a Reply