HAM adalah persoalan yang selalu menjadi suatu noda yang tak pernah hilang di negara Indonesia ini.Selalu dan selalu hal tersebut terulang bagaikan rentetan peluru yang tak ada habisnya.“Diam?”, ohhhh tidak kawan,diam bukanlah suatu jawaban yang tepat untuk persoalan ini, “Lantas apa yang harus kita  lakukan?,” seperti kata Munir Said

 “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

   Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

   Dituduh subversif dan menggangu

   Maka hanya ada satu kata : lawan!”

Lantas mengapa sampai sekarang kita sebagai masyarakat hanya diam dan terduduk saja layaknya seorang kutu buku yang duduk di kursi kesayangannya,tetapi tidak peduli dengan hal yang terjadi di sekitarnya.bagaimana cara kita menjawab pertanyaan para pejuang yang telah gugur,jika kita bertemu dengan mereka  di alam kubur nanti?,apa kita tidak malu dengan semua ini.Sistem pemerintahan yang bobrok yang sama sekali tidak pro akan kerakyatan,korupsi yang semakin merajalela di tingkat pejabat negara,serta penegakkan hukum yang semakin ke sini semakin sangat memprihatinkan.

Kita kembali ke masa lampau saat Peristiwa Tanjung Priuk yang di mana para demonstran yang kurang lebih 1500 orang yang datang untuk menyampaikan aspirasinya di depan Polres Tanjung Priuk ,akan tetapi jawaban mereka adalah rentetan-rentetan peluru yang menghujani tubuh mereka,bahkan dengan teganya mereka melindas para demonstran dengan truk-truk militer,padahal mereka sudah tersungkur di atas tanah dengan ketidakberdayaan mereka.Lebih ironisnya lagi setelah mendengar jawaban Presiden Soeharto atas peristiwa tersebut dengan rasa tidak menyesal mengatakan “Siapapun yang melanggar hukum harus ditindak dengan tegas.Seperti yang kita  ketahui bersama peristiwa tersebut bukanlah peristiwa kecil yang dapat dipandang dengan sebelah mata saja,Peristiwa tersebut kurang-lebih menelan 400 korban jiwa termasuk para ulama yang ikut dalam demonstrasi.

Peristiwa Trisakti 12 Mei 1998,Peristiwa tersebut juga merupakan salah satu dari sekian banyaknya rentetan kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintahan orde baru.Peristiwa tersebut bermula saat Indonesia mengalami krisis moneter dan juga terpilih kembalinya Presiden Soeharto oleh MPR pada tanggal 11 maret 1998 .Para Mahasiswa Trisakti lah yang memulai demonstrasi tersebut dan tersebar ke seluruh Indonesia.Tragedi berdarah yang menimpa Mahasiswa Trisakti sangatlah memilukan kita,banyak sekali korban yang terluka bahkan sampai ada beberapa mahasiswa yang meninggal dunia,seperti: Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie.Soeharto pada saat kejadian tersebut sedang menghadiri KTT-G 15 yang diadakan di Mesir.Di sana,Soeharto menyerukan aksi perdamaian dan melakukan kerja sama dengan beberapa negara anggota G-15.Sekali lagi betapa mirisnya seorang pemimpin yang menyerukan kata perdamaian di dunia internasional,tetapi malah melakukan pembantaian maupun pelanggaran HAM di negaranya sendiri.

Peristiwa Semanggi pada 13 November 1998.Peristiwa tersebut berawal saat mahasiswa melakukan aksi demonstrasi lanjutan dari aksi demonstrasi sebelumnya,yaitu Reformasi.Mahasiswa dari berbagai perguruan tingi yang berdemonstrasi memprotes Sidang Istimewa DPR/MPR dan menolak dwifungsi ABRI di kawasan Semanggi.Mahasiswa yang sedang berdemo ditembakki dari berbagai arah oleh para aparat-aparat menggunakan senjata api,sampai-sampai mereka berlari ke dalam kampus Atma Jaya. Menurut data Tim Relawan untuk Kemanusiaan, jumlah korban tewas mencapai 17 orang warga sipil terdiri dari berbagai kalangan dan ratusan korban luka tembak ataupun terkena benda tumpul. Empat orang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menjadi korban tewas saat itu,yaitu Teddy Mardani,Sigit Prasetya Engkus Kusnadi,dan Bernardus Realino Norma Irawan atau Wawan.

Tidak habis sampai di situ saja , masih banyak sekali rentetan pelanggaran HAM yang belum terselesaikan,entah karena tidak ada bukti ataupun memang ‘mereka’ para apparat penegak hukum secara  sengaja tidak melakukan penyidikan?.Entahlah semua itu terasa sangat ganjil,mungkin saja para aparat takut akan kebusukan mereka terbongkar atau bahkan mereka menutup-nutupi segala kebenaran yang ada demi mereka yang sedang duduk di atas sana dengan berpangku tangan.Lucu sekali melihat kondisi negara kita tercinta ini.Mereka yang memiliki segalanya akan semakin mudah melakukan apa saja “Bagaikan membalikkan telapak tangan.”Namun sebaliknya bagi mereka yang tidak memiliki apa-apa yang sedang menuntut keadilan yang katanya menurut Sila kelima yang berbunyi “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.”Namun pada kenyataannya masih saja hukum kita ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Membahas perkara HAM di negeri ini tidak akan ada habisnya,bahkan mungkin sampai kapanpun tidak akan pernah terselesaikan,jikalau orang-orang yang menduduki kursi pemerintahan dan para penegak hukum adalah orang-orang yang haus akan kekuasaan,bahkan lebih parahnya media-media dibungkam untuk tidak mengeluarkan berita-berita yang tidak sesuai dengan keinginan pemangku kepentingan.hal tersebut mengingatkanku dengan kata-kata seorang filsuf Yunani kuno,Marcus Aurelius

“Segala sesuatu yang kita dengar adalah pendapat,

  bukan fakta.

  Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif

  bukan kebenaran.”

Ya seperti itulah kondisi media kita sekarang ini, apa pun yang kita dengar dan kita lihat di dalam media , itu bukanlah suatu kebenaran maupun fakta,melainkan suatu kebohongan atau manipulasi yang dibuat denan tujuan memperdaya dan memperbodoh kita masyarakat awam agar tidak mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Sudah banyak sekali aktivis-aktivis terdahulu yang mati atau hilang tak tahu rimbanya,sebut saja kasus hilangnya Widji thukul,Beliau merupakan salah satu aktivis yang sangat aktif semasa pemerintah orde baru.Ia sangat ditakuti oleh pemerintahan orde baru karena keaktifannya dalam mengkritisi pemerintahan tersebut melalui karya-karya tulisnya yang berupa puisi.Kini Ia tak tahu di mana rimbanya,19 tahun sudah setelah menghilangnya Widji Thukul dari dunia tanpa ada yang mengetahui di mana dia dan bagaimana keadaanya sekarang.Ya kasus ini merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM yang masih belum terselesaikan sampai saat ini,padahal sudah beberapa kali saja negara ini berganti alih kepemimpinan,tetapi tetap saja tidak ada titik jelas dalam kasus kehilangan sang aktivis.Hari demi hari-bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun sudah berlalu ,tetapi kenapa tidak ada sama sekali jawaban atas kasus hilangnya sang aktivis , bahkan sampai sudah gerang kami menunggu kabar tentangnya.Ia adalah sosok yang paling dirindu oleh kami karena ialah yang mengajarkan kami tentang akan pentingnya suatu keadilan dan juga mengajarkan kami bahwa suatu otoriter harus dilawan ,walaupun  harus bergelimangan darah disekujur tubuh ini.

 Selanjutnya kasus yang tidak kalah pentingnya,yaitu kasus meninggalnya Munir Said seorang aktivis yang giat dalam mengkritisi pemerintahan orde baru dan memperjuangkan HAM orang-orang yang menjadi korban dalam demonstrasi Reformasi.Munir meninggal di dalam pesawat saat hendak bertolak ke Amsterdam,Belanda.Menurut hasil autopsi di dalam tubuhnya terdapat arsenik yang meracuni tubuhnya.Sekali lagi kita kehilangan orang baik yang memperjuangkan hak-hak kaum lemah , tetapi dibungkam selama-lamanya oleh mereka yang berada di panggung teratas.Lagi dan lagi kasus ini tidak bisa terungkap secara tuntas oleh para penegak hukum,Para penegak hukum hanya bisa menangkap sang algojonya saja , tetapi sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas siapakah dalang dibalik pembunuhan berencana atas Munir Said.Padahal sudah sangat jelas bahwa dalam kematiannya ada suatu hal yang janggal ,yaitu adanya kandungan arsenik di dalam tubuhnya.Sudahlah mungkin memang hukum di negara ini tidak pernah mau bekerja sama dengan orang-orang baik,di pikiran mereka hanyalah harta ataupun tahta semata tanpa memedulikan sumpah yang telah mereka ucapkan saat pelantikan menjadi aparat penegak hukum negara.

Kasus pelanggaran HAM yang baru-baru ini adalah kasus penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Novel Baswedan.Ia disiram dengan air keras oleh dua orang pelaku yang mengendarai sepeda motor saat hendak menuju ke rumah setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah di masjid.Kasus tersebut pun dapat dikatakan terlampau lambat dalam penanganannya.Novel diduga sengaja ingin dilumpuhkan karena saat itu ia sedang menangani kasus besar , yaitu Penyidik senior KPK Novel Baswedan mengaku sedang menangani kasus suap hakim konstitusi Patrialis Akbar oleh Direktur CV Sumber Laut Perkasa, Basuki Hariman, saat dirinya diserang dengan air keras.Akibat penyerangan tersebut mata sebelah kiri Novel pun dapat dikatakan cacat total.Pelaku yang berhasil ditangkap pun sekali lagi hanya sang algojo saja sama seperti kasus Munir Said ,itu pun para pelaku hanya dijerat masa penahanan 1 tahun lamanya karena dianggap tidak sengaja dalam melakukan penyiraman tersebut oleh JPU ( Jaksa Penuntut Umum).Sungguh lucu dan anehnya hukum di negara ini , mana ada orang yang tidak sengaja melakukan suatu kejahatan,tetapi sudah siap siaga menunggu korban saat pagi buta dan sudah merencanakan hal tersebut dengan sekian matangnya,apalagi dengan membawa air keras yang sengaja disiram ke tubuh korban.Di mana letak ketidaksengajaan itu , wahai hakim-hakim yang katanya seorang penegak keadilan? ya lagi dan lagi kita hanya bisa mengelus dada akan kesewenang-wenangan mereka.

 Di dunia ini terdapat dua tipe manusia : apatis dan merdeka, jikalau kau ingin menjadi apatis tidak masalah karena itulah pilihanmu.Namun akan lebih baik bila kamu memilih menjadi orang yang merdeka.Merdeka dalam tindakan,merdeka dalam berpendapat,merdeka dalam peradilan,merdeka dalam berpikir,dan merdeka dalam berkependidikan.Ya beberapa hal yang saya sebutkan di atas sedang tidak baik-baik saja,seperti lembaga peradilan yang semakin hari-semakin menindas kaum lemah,sekolah-sekolah pun dimahalkan untuk mengenyangkan perut-perut pemangku kepentingan semata,dan ketikdakbebasan dalam bertindak dan berpendapat yang dapat kita rasakan saat ini karena akan takutnya mereka dengan kita para-para kaum muda,seorang revolusioner yang bagi mereka kita ini adalah suatu ancaman yang perlu ditumpas habis.Seseorang yang merdeka pasti akan memunculkan ide-ide baru yang belum pernah dipikirkan oleh generasi sebelumnya.Bagi penguasa ide-ide bisa dianggap suatu hal yang mengancam dan harus ditumpas untuk mempertahankan kedudukan mereka.Politik dan lagi-lagi politik,apa sebenarnya tujuan dari politik tersebut ?jujur aku sungguh malas membahas dunia politik yang sebenarnya sangatlah membosankan, sampai-sampai ingin sekali aku berlari darinya.Namun  setelah membaca kata-kata dari Soe Hok Gie ,”Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”Aku benar-benar berubah pikiran dan selalu ingin sekali membela atas nama kebenaran ,seperti “Serdadu” yang tak kenal letih.Lekas pulih Indonesiaku,lekas pulih keadilan,hidup mahasiswa.

“Jika kita tidak bisa melawan dengan kekuasaan.Maka kita lawan dengan pena” – Tirto Adie Soerjo.