Istilah “merdeka finansial” mungkin sudah sering teman-teman baca dan dengar dari berbagai media. Namun, mungkin sebagian teman-teman belum punya kesempatan untuk memahami lebih dalam apa makna sesungguhnya dari merdeka finansial.

Merdeka finansial ini sebenarnya dapat dimaknai sebagai suatu keadaan finansial seseorang yang sudah terbebas dari utang dalam bentuk apapun, memperoleh penghasilan pasif guna memenuhi kebutuhan hidup, dan terproteksi dari berbagai risiko finansial yang mungkin terjadi pada dirinya.

Sebenarnya, merdeka finansial bukanlah kondisi yang mudah untuk diraih, namun bukan berarti mustahil untuk dicapai. Pasalnya, ada sejumlah tahapan kehidupan yang harus ditapaki sampai seseorang berada pada tahap kemerdekaan finansial.

“Dalam mencapai kemerdekaan finansial, tidak ada seorangpun yang bisa mencapainya secara instan, melainkan harus melewati tahapan-tahapan kehidupan,” tutur Aulia Akbar, Financial Edukator dari Lifepal.co.id, dalam webinar Finding Financial Freedom for Gen Z & Millennials yang digelar BEM Kema Universitas Padjajaran, Rabu 16 September 2020.
Lewati dahulu 6 tahapan dalam upaya mencapai kemerdekaan finansial
Tahap pertama disebut fase ketergantungan, yakni fase mula-mula ketika individu masih bergantung pada orang lain untuk hidup, yakni orang tua. Fase selanjutnya adalah fase solvency, masa di mana seseorang sudah memiliki penghasilan dari dunia kerja yang baru digeluti.

Yang ketiga adalah fase stabilitas, ketika kondisi finansial seseorang sudah mulai stabil, dalam arti sudah memperoleh penghasilan lebih tinggi dan dapat menabung dengan besaran lebih dari sebelumnya, mempunyai asuransi kesehatan, dan pos dana daruratnya cukup menopang dalam keadaan mendesak. Fase keempat, adalah fase terbebas dari segala bentuk kewajiban berbentuk utang.

Kemudian, ada fase aman, yakni pada saat individu sudah punya investasi dengan imbal hasil setara pengeluaran kebutuhan primernya. Di atas fase aman, barulah ada fase merdeka, fase di mana seseorang dapat disebut dalam kondisi merdeka finansial. Besarnya penghasilan pasif dari investasi yang dimiliki amat memadai untuk memenuhi kebutuhan pokok, bahkan pengeluaran lain yang bersifat keinginan atau kebutuhan sekunder dan tersier.
Tips menggapai kemerdekaan finansial bagi Gen Z dan Milenial
Gen Z dan milenial yang sudah memiliki penghasilan, baik yang sudah terjun ke dunia kerja maupun mendapatkan penghasilan sambil kuliah, biasanya dihadapkan pada banyak godaan untuk melakukan pengeluaran yang bersifat konsumtif. Padahal, langkah awal bagi generasi mereka dalam melakukan perencanaan keuangan adalah mengendalikan pengeluaran.

“Kuncinya financial planning saat masih muda hanya satu, yaitu jangan boros dan jangan konsumtif,” ujar Akbar dalam acara webinar tersebut.

Terlebih lagi, pada era pandemi, Akbar menyarankan agar Gen Z dan Milenial alangkah baiknya menunda segala pengeluaran yang bersifat keinginan semata dan cenderung menghabiskan uang seperti “nongkrong” dan shopping.

Sebab, perilaku konsumtif bisa menghambat langkah anak-anak muda dalam menapaki tahap demi tahap menuju kemerdekaan finansial. Ketimbang dihabiskan untuk sesuatu yang sia-sia dan memperburuk kesehatan finansial, Gen Z dan Milenial didorong untuk mulai berinvestasi. Berikut ini kiat-kiatnya untuk mencapai kemerdekaan finansial dengan jalan investasi.
Buatlah tujuan hidup dengan metode SMART
Dalam perencanaan keuangan, tentukan dulu tujuan keuangan kita dalam hidup. Gunakan strategi SMART, yakni Specific, pastikan arah tujuan finansial; Measurable, perhitungkan berapa dana yang diperlukan demi merealisasikan tujuan keuangan; Achievable, upayakan tujuan keuangan itu realistis dan dapat dicapai, jangan terlalu muluk ; Relevant, tujuan yang hendak dicapai harus bermanfaat bagi diri kita ; serta Timebound, perhitungkan waktu sampai tujuan tersebut tercapai,

Misalnya, teman-teman ingin memiliki hunian sendiri dengan harga Rp1 miliar dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Ini merupakan contoh tujuan yang spesifik, berguna bagi teman-teman, dan sudah barang tentu dapat dikalkulasikan berapa dana yang harus diinvestasikan tiap bulannya, sehingga teman-teman dapat pula mengejar target pekerjaan yang memberikan penghasilan tertentu. Dengan demikian, teman-teman dapat memperhitungkan pula, apakah tujuan yang diinginkan cukup realistis bagi teman-teman.
Merdeka finansial bukan tergantung pada besar-kecilnya penghasilan
Jangan pernah beranggapan bahwa merdeka finansial hanya bisa dicapai oleh orang-orang dengan penghasilan besar saja. Sebab, merdeka finansial bukan bergantung pada seberapa besar penghasilan kita, tetapi pada kebiasaan kita dalam mengelola uang dan mengendalikan pengeluarannya. Biasakan membuat perencanaan pengeluaran untuk bulan berikutnya, sehingga hal itu dapat membantu menyehatkan pengeluaran dan pemasukan rutin.
Mulai berinvestasi, tapi hanya di instrumen yang benar-benar kita pahami
Anak-anak muda biasanya mudah jatuh pada godaan investasi baru yang terkesan modern, berbasis digital, dan memberikan iming-iming imbal hasil mudah dan besar. Jangan mudah tergiur dengan sesuatu yang bersifat instan.

Investasi pada dasarnya adalah upaya mengalahkan inflasi, sehingga dana yang kita miliki sekarang, tetap memiliki nilai yang kurang lebih sama di masa depan. Berinvestasilah pada saham, properti, reksadana, obligasi, deposito, atau instrumen keuangan lainnya, dengan catatan, pahami risiko dari setiap instrumen tersebut.

Investasi dengan imbal hasil tinggi, pada umumnya memiliki risiko yang tinggi pula, demikian juga sebaliknya. Ikut-ikutan tren atau orang lain tanpa pemahaman jelas tentang instrumen yang diikuti, dapat membuka peluang kita mengalami kerugian. Maka, mulailah dengan instrumen yang rendah risiko dulu saja. Baru kemudian, perluas pengetahuan soal instrumen investasi-investasi lainnya, lalu baru mencoba berinvestasi pada instrumen dengan risiko tinggi.
Investasi itu bukan “menyisakan”, namun “menyisihkan”
Sebelum berinvestasi, teman-teman harus paham bahwa dana untuk alokasi investasi sebaiknya bukan dana yang disisakan dari pemasukan bulanan. Sebaliknya, sisihkan terlebih dahulu di awal untuk investasi ketika mendapatkan penghasilan, baru gunakan lainnya untuk memenuhi kebutuhan..

Hindari membelanjakan uang lebih dulu dan menyisakan sedikit untuk investasi. Sebab, seringkali apa yang disisakan ini pada akhirnya akan dipakai juga untuk keperluan lain tanpa kita sadari.
Simpanlah uang di tempat yang memberikan bunga bergulung
Fitur compounded interest atau bunga bergulung yang ditawarkan instrumen investasi seperti deposito amat baik untuk dipertimbangakn. Bunga bergulung di sini adalah bunga yang akan kembali berbunga dari pokok dana yang dipinjam atau diinvestasikan.

Bunga dari hasil compounding bisa didapat ketika uang yang teman-teman hasilkan dari investasi menghasilkan keuntungan lagi ketika diinvestasikan kembali. Jadi, alangkah baiknya memanfaatkan sistem seperti ini ketimbang hanya menyimpan uang dalam tabungan konvensional yang hanya memberikan bunga tak lebih dari 1% per tahun.

Demikianlah beragam hal yang dapat dipelajari, dipahami, dan diterapkan oleh Gen Z dan milenial demi menggapai kemerdekaan finansial. Tentu teman-teman ingin menjadi salah satu orang yang berhasil mencapai kondisi tersebut, bukan?

Tertarik dengan info seperti ini? Jangan lupa kunjungi https://lifepal.co.id/