SIAPA ITU POLYGLOT?
M. Satria Muda Pratama Hidayat || Sastra Rusia 2015

Setiap manusia memiliki ketertarikan dan hasrat untuk mempelajari sesuatu yang dia minati, mulai dari yang mendominan seperti ilmu eksak hingga ilmu humaniora. Salah satunya adalah bahasa. Sebagian orang mengatakan bahwa seseorang yang mempelajari ilmu bahasa cenderung baik dalam memproses kegiatan visual dan seni. Namun, menurut saya, sebagai mahasiswa yang memperdalam bahasa asing, orang yang memiliki keahlian dalam berbahasa memiliki pemikiran dan fungsi otak yang seimbang, karena selain kita menulis, membaca, dan mendengarkan, kita juga dituntut untuk memahami aturannya secara struktural dan sistematis, tentang seluk beluk gramatika melalui cabang Ilmu Linguistik.
Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk yang menguasai lebih dari dua bahasa, dikutip dari artikel tribunews.wartakota(dot)com tentang Indonesia sebagai negara dengan bahasa terbanyak kedua setelah Papua Nugini, yaitu sebanyak 707 bahasa, dengan demikian masyarakat Indonesia dapat disebut sebagai masyarakat multilingual. Namun, pada umumnya multilingual di sini bukanlah jangkauan penguasaan bahasa secara internasional melainkan hanya mencakup bahasa daerah, berdasarkan letak geografis dan pengaruh lingkungan di Indonesia.
Menurut Febri Darusman, seorang Polyglot asal Bandung, selaku Koordiantor Regional Polyglot Indonesia Bandung, berpendapat bahwa “Seseorang dapat dikatakan multilingual apabila ia tinggal dalam lingkungan multikultural juga. Contohnya, Indonesia, seseorang lahir di Indonesia, ia akan terpapar oleh bahasa Ibunya (atau yang kita sebut sebagai bahasa daerah), setelah tumbuh ia akan dapat berbahasa Indonesia dengan fasih, lalu ditambah bahasa Inggris karena masuknya budaya internasional, seperti di bidang teknologi, kemudia bahasa Arab apabila ia Islam, karena setiap hari akan terpapar bahasa Arab untuk keperluan beribadah, setidaknya orang Indonesia akan familiar dengan empat bahasa tersebut, ditambah dengan adanya teknologi yang semakin bertambah”.
Keberadaan Polyglot di Indonesia sendiri sangat banyak, terutama di wilayah Pulau Bali yang hampir seluruh penduduknya bekerja di bidang pariwisata, seperti pemandu wisata atau pedagang yang harus menawarkan produknya menggunakan bahasa asing kepada turis yang datang. Hal tersebut dapat berpengaruh dalam keahlian berbahasa masyarakat setempat, seperti yang dilansir dalam CNN Indonesia, seorang anak berusia 10 tahun asal Bali yang bernama Ni Putu Rista memiliki pekerjaan sampingan yaitu penjual kartu pos ini dapat berbicara dalam 23 bahasa asing, dalam wawancaranya Rista mengaku bahwa kemampuan yang ia milki adalah pengaruh dari lingkungan yang multicultural. Banyaknya wisatawan asing yang berkunjung di desanya membuat Rista menirukan bagaimana mereka berbicara dan bercakap setiap harinya. Pengaruh lainnya adalah keperluan Rista untuk berjualan kartu pos, menjadikan kemampuan berbahasa asingnya meingkat dengan sangat cepat. Walaupun secara gramatikal masih belum seratus persen benar.
Polyglot asal Indonesia lainnya adalah Gayatri Wailisa, pada tahun 2012, anak ini meraih prestasi sebagai anak asuh TNI AD Ambon, dan menjadi Duta Asean mewakili Indonesia sebagai perwakilan tunggal. Prestasi yang didapat oleh Gayatri ini adalah hasil dari menjadi seorang Polyglot dalam menguasai 14 bahasa asing. Bahkan pada usianya yang ke 19 tahun, ia ditawari oleh Badan Intelejen Negara untuk bekerja sebagai penerjemah dokumen dan dijadikan sebagai Duta Anak BIN. Namun, sayangnya sebelum ia berangkat ke Jakarta, nafasnya harus berhenti di tengah perjalanan mencapai cita-citanya menjadi seorang Badan Intelejen Negara pada tanggal 23 Oktober 2014 di Jakarta.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seorang multilingual tercipta dari pengaruh lingkungan yang multicultural. Selain itu ada juga yang memang sudah minat dan memiliki passion dalam mempelajari banyak bahasa. Polyglot di Indonesia sudah banyak kehadirannya, terbukti dengan adanya Komunitas Polyglot Indonesia yang bercabang disetiap provinsi di Indonesia, membantu para insan muda untuk mengasah kemampuan bahasa asing bersama, dan melatih kemampuannya dalam bentuk sharing commite bersama penutur asli. Namun, fasilitas untuk belajar bahasa asing di Indonesia selain tempat kursus dan pendidikan formal, sangat kurang, dikarenakan minimnya sumber pembejalaran yang valid sehingga terkesan tidak berbobot. Berbeda dengan negara tetangga yang sangat memperhatikan materi-materi pembelajaran bahasa asing yang masuk dalam kehidupan masyarakat.
Saya percaya jika kita memiliki niat dan kepercayaan diri dalam melatih kemampuan berbahasa asing, maka kemampuan kita pun akan cepat terlatih, karena konsep pembelajaran bahasa asing bagi saya yaitu percaya diri, menyimak, meniru, dan bicara. Apalagi, pada era sekarang sangat mudah mendapatkan ilmu berbahasa melalui media sosial walaupun tidak seratus persen valid. Tapi, setidaknya dengan kita mengenal budaya asing dan mempelajari bahasanya, maka kita menjadi masyarakat yang berkompeten, dalam persaingan internasional bagi negara Indonesia pada umumnya, khususnya menjadi bekal untuk kesuksesan masa depan kita.
Sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran, saya sangat mengharapkan media dan sarana pembelajaran bahasa asing di Unpad semakin maju. Contohnya, saya sangat berharap Unpad memiliki Pusat Studi Bahasa Asing yang tidak hanya terpusat di Fakultas Ilmu Budaya namun di Lingkungan Unpad pada umumnya agar setiap Kema Unpad dapat mengembangkan minatnya dalam hal bahasa asing. Selain itu, sebagai mahasiswa aktif Sastra Rusia, saya amat sangat berharap agar Unpad memfasilitasi Native Speaker untuk jurusan kami dan dipermudah segala permasalahan birokrasinya. Karena penutur asli akan sangat membantu kami dalam perkembangan pembelajaran khususnya yang kurang beruntung tidak dapat pergi langsung ke negara yang bahasanya kami pelajari. Agar tercipta suasana pembejalaran bahasa asing nonformal berbasis learning with fun way, saya pribadi sangat mengharapkan adanya UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang tidak hanya mempelajari satu bahasa asing saja, namun berbagai bahasa, seperti Komunitas Polyglot Indonesia. Selain itu saya juga berharap Komunitas Polyglot Indonesia dapat bekerja sama dengan Unpad dan menjangkauan seluruh Kema Unpad dapat berpartisipasi, karena bagi saya bahasa asing merupakan bekal untuk sukses.