Rasisme dan Bagaimana Agar Menjadi Pribadi yang Anti-Rasis

Share on facebook
Share on twitter

Oleh: Fahri N Muharom

Seiring dengan meninggalnya George Floyd, seorang pria kulit hitam yang meninggal saat sedang ditahan oleh polisi di Minnesota, Amerika Serikat, telah memicu demonstrasi anti-rasisme dan mengecam aksi brutalisme polisi secara besar-besaran di berbagai negara.

Video penangkapan Floyd pun terekam dan popular di media sosial, video tersebut menampilkan polisi yang bernama Derek Chauvin menahan Floyd dengan cara menindih lehernya mengunakan  salah satu lutut kakinya.

Saat itu Floyd dengan posisi terlungkup di aspal. Ia pun sempat beberapa kali berteriak “aku tidak bisa bernapas,” namun teriakan itu tidak dihiraukan oleh Derek Chauvin dan beberapa polisi lain yang ada di tempat kejadian. Floyd ditindih oleh Chauvin selama 8 menit 46 detik[1].

Tidak lama setelah itu, Floyd pun tidak bergerak, lalu menghembuskan nafas terakhirnya.

Sehari usai kematian George Floyd, demonstrasi besar-besaran terjadi di Minneapolis. Aksi tersebut memprotes kebrutalan polisi Minnesota terhadap George Floyd.

Aksi protes terhadap rasisme dan kematian Floyd pun menjalar ke berbagai negara seperti Kanada, Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol, Italia, Hongkong hingga Indonesia[2].

Rasisme di Indonesia

Kematian George Floyd bisa dibilang menambah panjang sejarah kelam permasalahan tindakan brutalisme institusi kepolisian dan rasisme terhadap masyarakat minoritas kulit hitam di Amerika Serikat.

Hal serupa tidak hanya terjadi pada orang kulit hitam di Amerika Serikat. Permasalahan brutalisme institusi kepolisian dan permasalahan rasismejuga menimpa orang papua di Indonesia.

Kasus seperti diskriminasi yang dialami oleh George Floyd, juga dirasakan oleh orang papua di Indonesia.

Seperti apa yang terjadi oleh Obby Kogoya, seorang mahasiswa asal papua yang dijatuhkan ke aspal dan secara terus menerus diinjak oleh polisi Indonesia di Jogjakarta pada 15 Juli 2016, ketika ia ikut aksi demo mahasiswa papua yang memperingati referendum yang tidak demokratis tahun 1969 yang mengakibatkan terintegrasinya wilayah papua ke Indonesia.

Obby pun ditangkap dan diseret di aspal, ia juga ditendang dan dipukul. Petugas lain menginjak kepala Obby dan juga berkali-kali menginjak punggungnya. Obby adalah mahasiswa yang tidak bersenjata, tidak mengancam petugas atau orang yang ada disekitarnya namun nyatanya dia diperlakukan seperti penjahat. Obby pada akhirnya berhasil selamat namun ia dihukum empat bulan penjara atas tuduhan melawan dan menyerang dua petugas polisi, walaupun sebenarnya ialah yang menjadi korban[3].

Tindakan dan perilaku rasisme yang dialami oleh orang papua di Indonesia juga banyak terjadi di berbagai bidang kehidupan dan bernegara. Seperti adanya tindakan rasisme hinaan orang papua dengan hewan monyet yang terjadi pada kasus pengepungan mahasiswa papua di asrama mereka oleh polisi dan TNI di jalan Kalasan Surabaya, tanggal 16 Agustus 2019 lalu.

Adanya pengepungan dan tindakan rasisme oleh pihak polisi dan TNI pada mahasiswa papua di asrama mereka berdasarkan adanya tuduhan perusakan bendera merah putih yang dipasang di depan asrama namun tuduhan tersebut nyatanya tidak memiliki bukti yang jelas[4].

Adanya perilaku rasisme terhadap orang papua di Indonesia juga dapat kita lihat pada media massa di Indonesia. Stigma buruk sering dilekatkan kepada orang papua oleh media, salah satunya adalah stigma “pembuat onar” yang sering digunakan oleh media dalam memosisikan orang papua dalam suatu pemberitaan[5]

Permasalahan rasisme kepada orang papua di Indonesia juga merambah dibidang hukum, seperti artikel yang dilansir oleh Tirto 9 Juni 2020. Rasisme di Indonesia bisa terlihat lewat putusan-putusan pengadilan terhadap orang papua. Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hesegem “Pelaku rasisme di tuntut minim, sedangkan pemrotes rasisme dituntut belasan tahun.”[6]

Tindakan dan perilaku rasisme juga dialami oleh orang papua dalam kehidupan sehari-hari, terlebih orang papua yang tinggal di pulau jawa. Hal itu seperti sering adanya candaan yang cenderung mengarah pada diskriminasi warna kulit[7].

Diskriminasi tersebut biasanya berbentuk candaan dan anggapan bahwa orang yang berkulit putih dianggap sebagai orang yang cantik, sedangkan orang yang berkulit hitam sering dianggap sebagai orang yang jelek.

Tidak hanya itu, perilaku diskriminasi juga sering terjadi pada mahasiswa papua yang besekolah di pulau jawa, adanya bentuk diskriminasi itu biasanya dalam bentuk penolakan beberapa tempat kos-kosan yang tidak menerima mahasiswa asal papua untuk menempati kos-kosan mereka[8].

Permasalahan rasisme yang dialami oleh orang papua sama dengan permasalahan yang dialami oleh masyarakat kulit hitam di AS, keduanya merupakan permasalahan rasisme yang sudah terstruktural.

Apa yang dimaksud dengan rasisme struktural disini ialah tindakan dan perilaku rasisme yang sudah adan mengakar pada masyarakat di berbagai bidang kehidupan seperti sosial, kesejahteraan ekonomi, pendidikan dan hukum.

Permasalahan rasisme yang sudah terstruktural tersebut tentu tidak mudah dan cepat untuk dibenahi.

Adapun yang bisa dilakukan sekarang ialah dengan mendukung adanya gerakan aktivisme anti-rasisme dan menjadi orang yang tidak rasis, namun menurut sejarawan dan aktivis pergerakan anti-rasisme di AS, Ibram X Kendi menyatakan bahwa bersikap tidak rasis tidak lah cukup untuk melawan rasisme, karena hal tersebut menandakan sikap netral pada rasisme.

Menurut Kendi tidak ada opsi alternatif melawan rasisme, bersikap netral dengan cara bertindak tidak rasis­–sama saja membiarkan tindak dan perilaku rasisme. Kebalikan dari orang yang rasis bukanlah orang yang tidak rasis, melainkan orang yang anti-rasis.

Perbedaan dari keduanya ialah, orang yang rasis ialah orang yang mendukung adanya gagasan hirarki rasial sedangkan anti-rasis mendukung adanya gagasan kesetaraan ras.

Menjadi Anti-Rasis

Menurut Ibram X Kendi dalam bukunya How to Be an Anti-Racist, Kendi melalui pengamatannya pada sejarah rasisme pada masyrakat kulit hitam yang terstruktural di AS, ia menyimpulkan bahwa pemikiran rasis bisa dimiliki oleh siapa saja, serta bagaimana mudahnya pemikiran rasis mengakar dan mudah terkait dengan kebijakan rasis yang menciptakan kesenjangan sosial, ekonomi, budaya dan politik yang berbahaya.   

Kendi bependapat bahwa cara yang paling benar melawan rasisme ialah dengan cara menjadi seorang yang aktif melawan tindakan dan perilaku rasisme yang ada, dengan kata lain menjadi seorang anti-rasis.

Berikut adalah cara yang dapat diikuti untuk menjadi seorang yang anti-rasis menurut Ibram X Kendi dalam bukunya How to Be an Anti-Racist:


1. Memahami Definisi Rasisme

Perbincangan menegenai rasisme terkadang kurang dapat dimengerti ketika partisipan dipaham arti dari rasisme. Menurut KBBI, definisi dari rasisme atau rasialisme adalah 1) prasangka berdasarkan keturunan bangsa; perlakuan yang berat sebelah terhadap (suku) bangsa yang berbeda-beda; 2) paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul[9].

Beberapa orang terkadang disadari atau tanpa disadari mempercayai dan menerapkan prasangka buruk dan menganggap bahwa ras mereka merupakan ras yang lebih unggul dari yang lain.

Kendi juga berpendapat bahwa orang yang rasis ialah “orang yang mendukung kebijakan yang rasis secara aktif maupun tidak atau mengekspresikan pemikiran yang rasis”[10]. Pernyataan ini memaksa orang untuk menganggap diri mereka turut bertanggung jawab atas gagasan dan tindakan mereka.

Seorang yang anti-rasis, menurut Kendi, ialah orang yang mendukung kebijakan yang anti-rasis melalu tindakan mereka atau mengekspresikan gagasan anti-rasis.


2. Memahami Kesenjangan Rasial

What an anti-racist does first and foremost is identify racial inequities,” ujar Kendi.

Rasisme memproduksi ketidaksetaraan dan kesenjangan rasial di berbagai bidang kehidupan pribadi dan publik. Hal itu termasuk politik, program kesehatan, peradilan hukum, pendidikan, pemasukan, pekerjaan dan kepemilikan properti.

Menjadi seorang yang anti-rasis berarti mengetahui dan mempelajari mengenai ketidaksetaraan dan perbedaan yang memberikan suatu kelompok ras dibandingkan ras lainnya. Mengakui bahwa ada ras dan etnis yang underprivileged[11].

Seorang yang rasis akan mengasosiasikan hal buruk dan kesenjangan ekonomi yang dialami oleh suatu kelompok dengan perilaku dan karakteristik kelompok tersebut.  Sedangkan seorang yang anti-rasis menganggap permasalahan bukan berada pada kelompok, melainkan dari kebijakan-kebijakan rasial yang membuat rugi kelompok tersebut.

Hal yang bisa kita lakukan adalah mencoba memahami pengetahuan dan lapisan ideologi agar kita dapat mengenyahkan asosiasi buruk pada ras/etnis tersebut.


3. Berhenti Berkata “Saya Tidak Rasis”

Denial is heartbeat of racism” ujar Kendi.

Berpendapat “saya tidak rasis” tidak mengubah keadaan dan pandangan diri sendiri terhadap rasisme.

Menurut Kendi, pernyataan ini terkadang merupakan pernyataan yang egois dan menyangkal realita.

Dengan menganggap diri sebagai orang yang tidak rasis, atau tidak ingin masuk dalam perdebatan rasisme, membuat sulit bagi kita melihat apakah gagasan, pemikiran, dan tindakan merupakan hal yang rasis.

Adanya identifikasi dan pengakuan kesalahan itu bisa menjadi alasan untuk mengubah sesuatu.

Hal yang sama juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia jika ingin menyelesaikan permasalahan rasisme, pemerintah harus mengakui adanya tindakan rasisme dan diskriminasi terrhadap orang papua. 


  1. 4. Menentang Gagasan Rasisme

Setelah dapat mengidentifikasi disparitas rasial, selanjutnya adalah memeriksa pandangan, kepercayaan dan dukungan politik yang kita miliki menjustifikasi ketidaksetaraan ras.

Pandangan, kepercayaan yang secara sadar atau tidak sadar tersebut tentu harus kita ubah.

Seperti pandangan bahwa orang berkulit putih lebih menarik daripada orang berkulit hitam, atau stigma buruk yang kita asosiasikan pada suatu kelompok ras atau etnis. Dukungan politik juga mempengaruhi ketidaksetaraan rasial. Seperti apa kamu mendukung seorang pemimpin yang mengangkat isu disparitas rasial atau sebaliknya? Realita ini lah yang sering terjadi, terkadang kita tidak menyadari bahwa tindakan dan perilaku bersifat rasis, bersifat ignorant dan tidak menghadapi permasalahan tersebut bukanlah pilihan bagi orang yang ingin menjadi anti-rasis.

Dengan kata lain, hal yang bisa dilakukan adalah mengubah ketidaksetaraan dan disparitas ekonomi yang berkaitan dengan akses ekonomi, pengetahuan dan sosial yang jadi landasan rasisme tersebut melalui tindakan aktif.


  1. 5. Mendukung dan Mengedukasi

Kita tidak bisa menjadi seorang yang anti-rasis tanpa adanya tindakan aktif, menurut Kendi salah satu cara untuk aktif adalah mendukung aktivisme dan organisasi yang melawan kebijakan yang menciptakan disparitas rasial. Hal itu bisa dilakukan dengan mengikuti dan mendanai aktivisme dan organisasi yang mendukung adanya kesetaraan ras dan ingin mengubah kebijakan-kebijakan yang rasis.

Tindakan aktif juga dapat dilakukan dengan cara mengedukasi kepada generasi selanjutnya. Khususnya mengedukasi tentang bagaimana pentingnya kesetaraan bagi semua orang lintas ras dan etnis di semua aspek.

Menurut Kendi, hal-hal tersebutlah yang bisa dilakukan agar kita dapat mengenyahkan ketidaksetaraan rasial di ruang lingkup kita.

Dengan menghadapi permasalahan rasisme setiap hari diberbagai aspek kehidupan, kita mengenyahkan dan mengubah ketidaksetaraan dan perilaku rasisme yang ada.

Seperti yang dikatakan oleh aktivis pergerakan kesetaraan kulit hitam di Amerika Serikat, James Baldwin: “Not Everything That Is Faced Can Be Changed; But Nothing Can Be Changed Until It Is Faced.” 

Daftar Pustaka

Ibram X Kendi, How to Be an Anti-Racist, 2019.

Artikel

[1] https://www.nytimes.com/2020/05/31/us/george-floyd-investigation.html

[2] https://www.aljazeera.com/news/2020/06/timeline-george-floyd-protests-200610194807385.html

[3] https://edition.cnn.com/2020/06/06/world/gallery/intl-george-floyd-protests/index.html

[4] https://www.thejakartapost.com/academia/2020/06/04/global-fight-against-racism-papuan-lives-also-matter.html

[5] https://tirto.id/buntut-rasisme-mahasiswa-papua-jalan-diblokir-gedung-dprd-dibakar-egxz

[6] https://www.remotivi.or.id/amatan/543/media-dan-diskriminasi-rasial-terhadap-papua

[7] https://tirto.id/timpangnya-putusan-hukum-pelaku-dan-pemrotes-rasisme-ke-orang-papua-fF6j

[8] https://www.thejakartapost.com/academia/2020/06/04/papuan-lives-matter-george-floyd-and-colorism-in-indonesia.html

[9] https://www.thejakartapost.com/news/2019/08/23/they-label-us-with-degrading-prejudices-how-papuan-students-deal-with-everyday-racism.html

[10] https://kbbi.web.id/rasisme

[11] Ibram X Kendi, How to Be an Anti-Racist, 2019. (Hal 15:2019)

[12] https://www.merriam-webster.com/dictionary/underprivileged

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *