PSSI dan Dagelan Sepak Bola Indonesia

Oleh : Hario Danang P || FH 2017

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang paling difavoritkan oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, bukan berlebihan, olahraga ini merupakan olahraga yang paling difavoritkan oleh masyarakat global. Dimulai dari pemain, klub, merchandise, bahkan arena perjudian yang berbau sepak bola selalu digandrungi oleh masyarakat lokal sampai global.

Industri sepak bola merupakan salah satu lahan industri yang menjanjikan bagi pelaku ekonomi, jumlah dana yang besar terus berputar dalam industri ini cukup menjanjikan apabila dikelola secara berkelanjutan, sehingga para milliarder dunia pun banyak yang menginvestasikan hartanya dalam industri sepak bola. Sebut saja, Roman Abramovich dengan Chealsea, Sheikh Mansour dengan Manchester City, Keluarga Glazer dengan Manchester United, hingga Erick Thohir yang sempat mengakuisisi mayoritas saham Inter Milan.

Euforia industri sepak bola yang menjanjikan juga merambah hingga pasar Indonesia. Tercatat sejak tahun 2014, Liga Indonesia sudah memperbolehkan klub profesional di Indonesia untuk membeli seorang marquee player dengan adanya batasan jumlah. Persib Bandung yang sempat mendatangkan Michael Essien dan Charlton Cole, yang merupakan pemain dunia yang sempat bermain di klub terkenal di Inggris. Madura United yang juga tidak kalah mendatangkan Peter Odemwingie yang sempat bermain di West Bromwich Albion. Mohamed Sissoko yang didatangkan oleh Mitra Kukar, dan beberapa marquee player yang didatangkan oleh klub sepak bola lainnya.

Pemerintah melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) merupakan posisi yang strategis untuk mengatur jalannya industri sepak bola di Indonesia. Hal ini didasarkan atas pengaturan agar sepak bola Indonesia sesuai dengan tujuan daripada Negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui venue olahraga sepak bola yang demokratis, adil, dan spotif untuk membentuk masyarakat yang sehat, bugar, prestatif dan menciptakan kepribadian bangsa yang bermartabat.

Tilas Singkat PSSI

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia adalah induk organisasi olahraga cabang sepak bola di Indonesia. Dilansir dari situs resmi PSSI, PSSI didirikan pada 19 April 1930 di Solo dengan nama awal Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia yang diketuai Ir. Soeratin Sosrosoegondo.

Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Statuta PSSI edisi revisi 2011, PSSI merupakan organisasi masyarakat yang bersifat independen dan mandiri. Artinya, PSSI adalah organisasi olahraga yang didirikan oleh sekelompok masyarakat sesuai dengan prosedur yang diatur oleh peraturan perundang-undangan dan bebas pengaruh serta intervensi dari pihak manapun untuk menjaga netralitas dan menjamin profesionalitas pengelolaan sepak bola Indonesia. Hal ini diperkuat oleh pasal 35 UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Lanjutan dari adanya induk organisasi cabang olahraga di Indonesia adalah adanya Komite Olahraga Nasional yang ditetapkan oleh masyarakat.Salah dua tugasnya adalah membantu Pemerintah dalam membuat kebijakan nasional dalam bidang pengelolaan, pembinaan, pengembangan olahraga nasional dan mengordinasikan induk organisasi cabang olahraga.

Tanggung jawab pengelola keolahragaan negara berada di tangan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). Lantas mengapa harus ada organisasi masyarakat yang mengatur persepakbolaan Indonesia? Badan yang terlepas secara mandiri dari Kementrian dapat dikategorikan sebagai komisi eksekutif (executive branch agencies) sebagai eksperimentasi kelembagaan yang betugas membantu tugas Kementrian dalam menjalankan tugasnya di salah satu cabang olahraga.

Hubungan antara Kemenpora dan PSSI didasarkan atas prinsip kemitraan dan keterbukaan. Prinsip kemitraan mengharuskan Kemenpora dan PSSI melakukan kordinasi dan kerjasama yang menguntungkan bagi kedua belah pihak dan prinsip keterbukaan mengharuskan setiap lembaga agar menjadi lembaga yang transparan dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan publik.

Dagelan Sepak Bola Indonesia

PSSI seyogyanya menjadi suatu institusi yang tegas dan berwibawa dalam mengatur percaturan sepak bola Indonesia, hal ini dimaksudkan agar terjadinya suatu keteraturan dalam sepak bola Indonesia sehingga bisa mencapai prestasi tertinggi yang diakui oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan mengharumkan nama bangsa.

Namun apa yang terjadi pada tubuh PSSI sendiri kadang membuat geleng-geleng kepala dari masyarakat. Banyaknya kebobrokan dalam tubuh PSSI dalam menyalahkan kewenangannya menimbulkan tanya besar mengenai untuk apa dan siapa PSSI bekerja?

Sebuah talkshow milik Najwa Shihab mengungkapkan beberapa fakta miris yang terjadi dalam sepak bola Indonesia. Prestasi buruk Timnas Sepak Bola Indonesia ternyata bukan sekedar problema pemain yang menendang bola, tetapi ada oknum-oknum yang sengaja menjaga sepak bola Indonesiaagar tidak berkembang ke level selanjutnya.

Kasus pembujukan pengaturan skor yang dialami oleh manajer Madura FC dilakukan bukan oleh sembarang orang, tetapi langsung dilakukan oleh Komite Eksekutif yang notabene adalah “kepala” nya PSSI. Komite eksekutif dalam tubuh PSSI berfungsi sebagai eksekutor dari regulasi yang ditetapkan kongres dan pembentuk kebijakan dalam percaturan sepak bola tanah air.

Januar—manajer Madura FC—mengatakan ada tawaran dari exco PSSI dengan nominal 100-150 juta agar kemudian Madura FC mengalah kepada PSS Sleman. Hal itu sempat diklarifikasi secara langsung oleh terduga yang merupakan anggota exco PSSI. Kasus pengaturan skor yang terjadi di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membujuk manajer, pelatih, pemain dengan nominal yang besar untuk sekali pertandingan, hingga mensuap wasit untuk mempermainkan skor akhir.

Rochi Putiray—mantan pemain Timnas Indonesia—pun mengamini bahwa pengaturan skor bukan merupakan suatu permainan baru yang ada di sepak bola Indonesia. Ia sempat mengriktik bahwa PSSI sudah salah urus sejak awal. Hal ini menjadi miris karena kasus ini baru viral di media sosial dalam waktu belakangan.

Memang, salah satu tugas PSSI yang diatur dalam statuta PSSI ialah mengatur dan/atau mengkordinasikan seluruh pertandingan dan turnamen resmi, baik pada tingkat nasional maupun pada pertandingan lain yang diselenggarakan di Indonesia. Lantas apakah ada pelebaran tafsir dari statuta PSSI oleh oknum exco PSSI yang menafsirkan bahwa mengatur skor akhir juga merupakan bagian dari mengatur seluruh pertandingan?

Pengaturan skor tentu menciderai nilai-nilai sportifitas dan profesionalitas dalam olahraga. Pengaturan skor bertentangan dengan apa yang menjadi tujuan PSSI untuk mengembangkan sepak bola Indonesia yang berlandaskan semangat fair play.Walaupun sudah banyak sanksi yang dikeluarkan oleh Komisi Disiplin PSSI, hal itu nampak tidak berpengaruh secara signifikan untuk memberantas mafia-mafia dalam sepak bola Indonesia.

Publik tentu mengingat Perseteruan antara PSSI dengan Kemenpora yang sempat menjadi panas ketika Menpora mengambil keputusan untuk membekukan PSSI pada tahun 2015 karena ada anggapan mengenai dilakukannya pelanggaran dalam menyelenggarakan QNB League dan internal PSSI yang sarat dengan perjudian dan pengaturan skor. Publik sempat dibuat kecewa oleh keputusan ini yang mengakibatkan Indonesia mendapat sanksi dari FIFA.

Pecinta sepak bola juga hafal dengan kisruh #EdyOut di media sosial. Edy Rahmayadi yang merupakan Ketua PSSI dianggap tidak efektif dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua PSSI dikarenakan beliau juga terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara dan menolak mundur sebagai Ketua PSSI.

Publik seakan dibuat sadar, apa yang menjadi mandulnya prestasi Indonesia di cabang sepak bola bukan hanya melulu perkara kualitas pemain. Ada suatu sistem yang memelihara oknum-oknum untuk mengambil celah dan mengambil keuntungan pribadi menjadi suatu titik fokus yang harus dikawal bersama.

Melihat mirisnya institusi yang mengatur percaturan sepak bola Indonesia, maka diharuskan adanya reformasi dalam tubuh PSSI. Memang, Ketua PSSI bukanlah merupakan jabatan publik yang dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum layaknya presiden. Tetapi pemilihan Ketua PSSI dilakukan atas dasar pengangkatan dan musyawarah internal dalam kongres PSSI. Tetapi untuk mereformasi internal PSSI diperlukan seorang ketua yang hanya memiliki satu fokus untuk membenahi sistem persepakbolaan Indonesia, tidak terpecah fokus untuk mengurus daerah ataupun klub.

Media harus berani untuk mengungkap kebobrokan yang ada di dalam tubuh PSSI, sehingga pengawasan PSSI tidak hanya dilakukan oleh para stakeholdersnya saja, tetapi juga oleh seluruh rakyat Indonesia melalui media-media pers sehingga gerak mafia-mafia sepak bola Indonesia dapat dibatasi dan menciptakan iklim sepak bola yang sportif dan profesional. Seperti yang dikatakan Ketua PSSI, “kalo wartawanya baik, Timnasnya juga baik”.

Referensi

Statuta PSSI edisi revisi Tahun 2011

NajwaShihab. 2018. PSSI Bisa Apa?. https://www.youtube.com/watch?v=tRu8FhUnlDY&t=2sdiakses pada Rabu, 5 Desember 2018.