Profil

Tahun 1996
Tahun 1996 merupakan tahun dimana para stakeholder fakultas yang digawangi oleh Fery (SEMA FISIP) berinisiatif untuk membentuk organisasi kemahasiswaan (ormawa) di tingkat universitas karena keinginan untuk menyatukan semua mahasiswa UNPAD dalam satu wadah formal. Usaha pembentukan ormawa di tigkat universitas dimulai dengan diadakannya Musyawarah Besar Pertama (MUBES I) Senat Mahasiswa Tingkat Perguruan Tinggi (SMPT) di Lembang untuk menggagas ormawa di tingkat universitas yang kemudian dilanjutkan dengan MUBES II di tempat yang sama pada akhir tahun 1996. MUBES II tersebut tidak sampai selesai dilaksanakan, karena adanya pembubaran. Ada dua versi yang terjadi pada saat pembubaran MUBES II, yaitu menurut pihak mahasiswa dan menurut pihak rektorat. Menurut mahasiswa, MUBES tersebut dibubarkan oleh pihak rektorat karena banyaknya tuntutan yang dilakukan oleh mahasiswa atas kebijakan-kebijakan rektorat yang saat itu dipimpin oleh Bapak Maman P. Rukmana. Dan versi kedua (menurut rektorat) mengatakan bahwa mahasiswa yang membubarkan diri sendiri karena terjadinya perpecahan di tingkat mahasiswa oleh lembaga-lembaga mahasiswa itu sendiri pada tingkat universitas dan fakultas.

Tahun 1997
Pada tahun 1997, pemboikotan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) terjadi di tingkat Universitas dan Fakultas oleh mahasiswa sehingga muncul sanksi akademik saat itu. SMPT saat itu mengajukan proposal PMB oleh mahasiswa, namun pihak rektorat menolak karena menganggap SMPT telah ”vacuum” dan mengeluarkan statement ”Mahasiswa Baru tidak boleh ’disentuh’ selama satu semester”. Mahasiswa yang tetap merasa mempunyai SMPT mencoba untuk melaksanakan LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa) tingkat Universitas bekerjasama dengan alumni-alumni UNPAD dan dosen-dosen yang masih concern pada organisasi kemahasiswaan. LDKM itu dilaksanakan di Lembang, tetapi kegiatan tersebut tidak berjalan dengan baik karena dibubarkan oleh pihak rektorat dengan mengirim dua Kompi Brimob. Pihak rektorat berdalih bahwa kegitan tersebut ilegal.

Tahun 1998 – 2002
Kemudian pada tahun 1998 dibentuklah Tim Fasilitator Dialog Mahasiswa (TIFADIMA) UNPAD. Setelah itu pada tahun 1999 diadakan Kongres Mahasiswa tingkat Universitas yang diadakan di Dipati Ukur dengan menghadirkan Ketua-Ketua BPM Fakultas, perwakilan mahasiswa tingkat Fakultas (SEMA) hingga jurusan termasuk UKM-UKM tingkat Universitas. Kegiatan ini untuk merumuskan dan menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan GBPK. Karena organisasi ini belum disahkan oleh pihak Rektorat waktu itu, maka untuk sementara difasilitasi oleh Forum Gabungan (FORGAB) sebagai lembaga transisi sebelum terbentuknya KEMA.

FORGAB merupakan forum gabungan dari tingkat Fakultas (BPM, SEMA, HMJ). HMJ sendiri tergabung dalam FORSIL (Forum Silaturahmi). FORGAB dipimpin oleh Presidium dari tiap-tiap FORKOM (Forum Komunikasi), SEMA, BPM, DAN UKM. HMJ yang tergabung dalam FORSIL nantinya bertindak ke FORKOM BEM. FORGAB sendiri awalnya terdiri dari tiga orang presidium, yaitu Presidium BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), Presidium BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa), dan Presidium UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Presidium pada periode pertama yaitu Aliardo (FASA), kemudian digantikan oleh Presidium periode kedua, yaitu Michael Renaldy Z. (SEMA FH) sebagai Presidium BEM, Sandy Gunawan H. (BPM FIKOM) sebagai Presidium BPM dan Yuliandre Darwis (UPBM) sebagai Presidium UKM.

Pada periode ini dibentuklah Tim Lobby yang memiliki wewenang menjelaskan AD/ART KEMA UNPAD kepada Rektorat. Tim Lobby terdiri dari Wildan (BPM FASA) sebagai koordinator dengan anggota Anna (BPM FKG), Ali (BPM FAPERTA), Yudha (BPM FIKOM), Irfan (SEMA FKG), Abdi Roby (BEM FAPERTA),Pupung (UTMU), Marenda/Imanda (LPPMD), Pribudi (DKM), dua orang perwakilan HMJ, dan tiga orang presidium FORGAB.

Selain Tim Lobby dibentuk juga Tim Propaganda yang dimotori oleh Irfan (BEM FAPSI), Abdi Roby (BEM FAPERTA), dan Yudha (BPM FIKOM), Heri (BPM FASA D3), Subangun (BPM FE), Ibnu (BPM FMIPA D3), dan beberapa nama lain untuk mensosialisasikan KEMA UNPAD ke seluruh mahasiswa UNPAD.

Perjalanan lobby dan pengesahan konsep AD/ART berjalan cukup ”alot” dari pihak Rektorat dengan alasan pasal 5 (AD) dan pasal 15 (ART) tentang ”kesetaraan & keuangan”. Selain itu, PMB dapat dipegang oleh mahasiswa melalui FORKOM UKM setelah pergantian Rektorat. Pada saat PMB, terjadi aksi demo mahasiswa yang mendesak rektorat untuk mengesahkan AD/ART dan berdirinya KEMA UNPAD. Namun, hasil yang didapat selalu ”deadlock.”

Pada masa Aliardo, adanya FRAKSI dari gabungan ketua-ketua BEM tujuh Fakultas hampir memecahkan FORGAB pada aksi mahasiswa di Jakarta, karena ternyata ada pihak-pihak yang ingin memecahbelah FORGAB. Masalah KEMA Unpad sempat ”dilupakan” karena adanya kesalahpahaman, namun permasalahan itu dapat diselesaikan. Pihak rektorat juga dibentuk Tim Organisatoris yang dikoordinir oleh Bapak Budhi W. (PD III FISIP) yang terdiri atas 11 orang dari tujuh fakultas (PD III) dan staff rektorat. Dalam penyelesaiannya Tim Lobby FORGAB dipertemukan dengan Tim Organisatoris (Rektorat). Konsolidasi SK KEMA sempat dead lock karena adanya ketidaksepakatan dari FIKOM.

Hasil Tim Lobby, PMB tingkat Universitas dapat dipegang FORGAB dengan pertama kalinya menggunakan nama KEMA UNPAD. Tim Propaganda membuat propaganda melalui media-media lembaga kemahasiswaan tingkat Fakultas dan stand Mahasiswa yang boleh berdiri pada saat PMB dengan nama FORGAB-KEMA UNPAD. SK KEMA UNPAD yang tadinya akan dibacakan saat PMB tidak terlaksana, karena adanya accident mahasiswa diluar dari skenario yang ada sehingga SK KEMA UNPAD tertunda lagi untuk diserahkan dengan alasan adanya perpecahan dikalangan mahasiswa mengenai berdirinya KEMA UNPAD.

Lobby-lobby dan konsolidasi terus dilakukan baik secara tim maupun pribadi. Dan akhirnya pada tanggal14 Maret 2002 Deklarasi KEMA UNPAD dilaksanakan di Graha Sanusi yang dihadiri oleh PR III dan Tim Organisatoris berikut Ketua-ketua Lembaga Kemahasiswaan dari tingkat Himpunan sampai ke tingkat Fakultas dan UKM di lingkungan UNPAD. Maka dalam catatan sejarah pendirian KEMA UNPAD, tanggal14 Maret 2002 dijadikan sebagai hari jadinya KEMA UNPAD. Kemudian pada tanggal 22 Maret 2002 SK KEMA UNPAD turun dari Rektorat. Pada saat itu dibacakan LPJ Presidium FORGAB sebagai tanda berakhirnya kepengurusan FORGAB.

Era Kema Unpad
Tahun 1996 merupakan tahun dimana para stakeholder fakultas yang digawangi oleh Fery (SEMA FISIP) berinisiatif untuk membentuk organisasi kemahasiswaan (ormawa) di tingkat universitas karena keinginan untuk menyatukan semua mahasiswa UNPAD dalam satu wadah formal. Usaha pembentukan ormawa di tigkat universitas dimulai dengan diadakannya Musyawarah Besar Pertama (MUBES I) Senat Mahasiswa Tingkat Perguruan Tinggi (SMPT) di Lembang untuk menggagas ormawa di tingkat universitas yang kemudian dilanjutkan dengan MUBES II di tempat yang sama pada akhir tahun 1996. MUBES II tersebut tidak sampai selesai dilaksanakan, karena adanya pembubaran. Ada dua versi yang terjadi pada saat pembubaran MUBES II, yaitu menurut pihak mahasiswa dan menurut pihak rektorat. Menurut mahasiswa, MUBES tersebut dibubarkan oleh pihak rektorat karena banyaknya tuntutan yang dilakukan oleh mahasiswa atas kebijakan-kebijakan rektorat yang saat itu dipimpin oleh Bapak Maman P. Rukmana. Dan versi kedua (menurut rektorat) mengatakan bahwa mahasiswa yang membubarkan diri sendiri karena terjadinya perpecahan di tingkat mahasiswa oleh lembaga-lembaga mahasiswa itu sendiri pada tingkat universitas dan fakultas.

Setelah itu diadakan pertemuan di Aula Graha Sanusi untuk menyikapi dideklarasikannya KEMA UNPAD walaupun secara tertulis belum disahkan, namun pada pertemuan tersebut kita menyambut i’tikad baik dari pihak Rektorat untuk membentuk Organisasi Kemahasiswaan di tingkat Universitas Padjadjaran. Pada pertemuan tersebut menghasilkan terbentuknya BPBP3 (Badan Pekerja Bersama Perumusan Persiapan dan Pembentukan) KEMA UNPAD yang bertugas untuk membuat UU Pemilu Raya, Anggaran Dana Pemilu Raya, dan Jadwal Pemilu Raya KEMA UNPAD. Namun, pada pertemuan tersebut belum merekomendasikan orang-orang yang terlibat dalam BPBP3.

Kemudian karena masa jabatan Ketua SMF dan Ketua BPMF berakhir, maka masa jabatan presidium periode tersebut juga berakhir, karena seorang presidium haruslah seorang Ketua Lembaga yang menjabat di Fakultasnya dan Ketua UKM. Sekitar akhir bulan Mei 2002 diadakan pergantian presidum. Presidium yang terpilih pada periode 2002-2003 ini, yaitu Nasrul Haq (BEM FMIPA S1) sebagai Presidium BEMF, Kunto Rizki S. (BPM FISIP) sebagai Presidium BPMF dan Deddy Sukmana sebagai Presidium UKM.

Selanjutnya diadakanlah pertemuan anggota BPBP3 di Cikalong pada bulan Juni 2003. Anggota BPBP3 sendiri berjumlah 13 orang yang berasal dari rekomendasi BEMF dan BPMF. Nama-nama anggota BPBP3 diantaranya Panji (BPM FK), Genis (BEM FK), Nova (BEM FKG), Putti (BEM PSIK), Jeffry (BPM FMIPA S1), Indra Maulana (BEM FMIPA S1), Rahman (BEM FAPERTA), Sidiq (BEM FASA D3), Hasby (BEM FAPET), Indra Kusumah (BPM FAPSI), Barli (BEM FE), Asep (BPM FISIP), dan Irfan (BEM FAPSI). Masa Kerja anggota BPBP3 mulai dari tanggal 27 Mei-8 juni 2002.

Hasil dari pertemuan Cikalong tersebut berupa draft UU Pemilu Raya KEMA UNPAD, Anggaran Dana Pemilu Raya KEMA UNPAD, dan Jadwal Pemilu Raya KEMA UNPAD. Setelah itu dibentuklah PPU (Panitia Pemilihan UNPAD) dan PPF (Pemilihan Pemilihan Fakultas). Berdasarkan UU Pemilu Raya KEMA UNPAD maka PPU bertugas sebagai panitia penyelenggara Pemilu Raya KEMA UNPAD I sampai terpilihnya Ketua BEMU (Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Unpad) dan Anggota BPMU (Badan Perwakilan Mahasiswa Unpad). PPU sendiri diketuai oleh Hakimin (FE).

Pihak Rektorat mendukung pembentukan Organisasi Kemahasiswaan di tingkat universitas dengan diberikannya Surat Keputusan (SK) Rektor Universitas Padjadjaran Nomor : 116.b/J06.3/Kep/KM/2002 kepada Presidium Sementara KEMA UNPAD yang terdiri dari:

  1. Kunto Rizki Santika Ketua Forum Komunikasi BPM
  2. Nasrul Haq Ketua Forum Komunikasi BEM
  3. Rori Ade Putra Ketua Forum Komunikasi UKM

Dengan SK yang diberikan rektorat kepada Presidium Sementara pada bulan September 2002dihadapan mahasiswa baru angkatan 2002 pada acara PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) Unpad maka secara de facto dan de jure Kema Unpad telah terbentuk.

Persiapan Pemilu Raya Kema Unpad oleh PPU dimulai pada bulan Agustus-September 2002. Pemilu Raya Kema Unpad I sendiri berlangsung pada bulan Oktober 2002. Hasil Pemilu Raya Kema Unpad I, yaitu terpilihnya Indra Maulana (FMIPA) sebagai Ketua BEM Unpad dan terpilihnya Anggota BPM Kema Unpad.

Setelah itu diadakan Kongres I Kema Unpad pada bulan Juni 2003 bertempat di Ruang Serba Guna Fapet yang diketuai oleh Ferdi (Fapet). Agenda Kongres I Kema Unpad, yaitu: mengangkat dan melantik Ketua BEM dan anggota BPM terpilih, pemilihan Ketua BPM oleh anggota BPM terpilih pada Kongres I Kema Unpad, yaitu Rudi Wahyudi.

Dengan terbentuknya badan kelengkapan Kema Unpad, maka dengan sendirinya Forgab membubarkan diri. Kebijakan tertinggi di Kema Unpad yang berperan untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa ada pada badan kelengkapan yang terdiri dari BEMU, BPMU, UKM.

Pada periode 2008-2009, terjadi reformasi dalam tubuh Kema Unpad dimana telah dilaksanakan lokakarya Kemahasiswaan tingkat universitas untuk mengatur kehidupan berorganisasi di Kema Unpad sesuai dengan amanat Kongres VI tahun 2008. Tahun 2008 menjadi tahun yang sangat singkat karena mulai diberlakukannya normalisasi periode kepengurusan lembaga kemahasiswaan di Kema Unpad menjadi Januari-Desember sesuai dengan kesepakatan pada Lokakarya Kemahasiswaan. Selain itu, pada Kongres VII yang dilaksanakan pada tahun 2009, terjadi perubahan dalam AD/ART yang mengubah persepsi Presiden BEM menjadi Presiden Kema Unpad. Presiden BEM bukan hanya ketua dari lembaga eksekutif, melainkan pemimpin bagi mahasiswa Unpad karena mahasiswalah yang memilih Presiden Kema Unpad.

Demikianlah sejarah panjang pembentukan KEMA UNPAD. Rekaman tulisan ini hanyalah sekelumit dari sejarah kemahasiswaan di UNPAD. Mahasiswa UNPAD sangat diharapkan dapat memberi kontribusi nyata dalam perubahan bangsa ini dalam berbagai aspek kehidupan ke arah yang lebih baik. Kita semua berharap bahwa organisasi kemahasiswaan yang telah dibentuk dengan perjuangan yang sulit ini dapat digunakan sebagai wadah penyalur kreatifitas dan aktualisasi diri mahasiswa di Universitas Padjadjaran.

HIDUP MAHASISWA..!! HIDUP RAKYAT INDONESIA..!!