World Cleanup Day merupakan kegiatan gotong royong terbesar dalam sejarah manusia yang diadakan serentak di 158 negara di seluruh dunia dengan melibatkan 150 juta partisipan. Jatinangor menjadi salah satu daerah di Indonesia yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Kegiatan World Cleanup Day di Jatinangor diinisiasi oleh Tim Unpad Kawal Citarum dan Departemen Advokasi Masyarakat BEM Kema Unpad. Kegiatan WCD berlangsung pada Senin, 10 September 2018 di sungai Cikeruh yang merupakan anak sungai Citarum. Oleh karena itu, dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan akan berdampak pada perbaikan sungai Citarum yang saat ini masih dalam pengawalan Tim Unpad kawal Citarum dan Departemen Advokasi Masyarakat. Tujuan utama diadakannya kegiatan WCD di Jatinangor adalah untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan masyarakat setempat tentang pentingnya menjaga lingkungan sekitar, dan tentu hal ini dimulai dari diri sendiri dari sejak dini.
Kegiatan WCD berlangsung dari pukul 08.30 – 11.30 pagi WIB. Peserta yang ikut berpartisipasi berjumlah sekitar 60 orang yang terdiri dari mahasiswa sebagai volunteer yang diperoleh melalui open recruitment volunteer dan anggota BEM Kema Unpad serta masyarakat setempat. Antusiasme masyarakat terlihat dari respon positif yang diberikan dan keikutsertaan mereka dalam keberlagsungan kegiatan ini.
Dari kegiatan yang berlangsung kurang lebih tiga setengah jam tersebut berhasil mengumpulkan 65 trash bag yang berisikan sampah dengan berbagai kategori dan komposisi terbanyak meliputi sampah plastik, sampah popok, pakaian bekas, dan botol kaca.
Ayustin, staf departemen Advokasi Masyarakat BEM Kema Unpad, yang juga merupakan project officer kegiatan ini menyampaikan pesan kesannya, ia mengungkapkan betapa luar biasa sekali kegiatan seperti WCD ini diadakan di Jatinagor. Ia berharap kepedulian masyarakat akan lingkungan sekitar dapat dipertahankan demi kemaslahatan hidup bersama.
Terlepas dari kesuksesan dan keberhasilan indikator kegiatan ini, terdapat kendala yang dihadapi para partisipan, yaitu terhambatnya mobilisasi karena keadaan sampah basah dan berlumpur sehingga menyulitkan partisipan dan tentu dibutuhkan tenaga extra untuk menggotong sampah tersebut. Selain itu, sampah organik yang sudah mulai terurai menyebabkan banyak hewan berkembang biak seperti belatung, ulat, dan hewan sejenisnya. Namun, kendala-kendala yang dihadapi dapat diatasi dengan baik.