Tema  : Agama dan Kebangsaan (Lingkar Opini)

Judul  : Peran Agama dalam Merawat Keberagaman

Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari berbagai macam ras, etnis, suku, dan agama yang beragam. Tentu saja hal ini sudah disadari para founding father negara ini sehingga mereka membuat suatu konsensus dengan menjadikan Bhineka Tunggal ika sebagai semboyan negara kita yang menyatu dengan lambang negara, yakni burung Garuda.

Jika kita tarik ke periode sejarah yang lebih jauh, yaitu masa kerajaan tradisional, kita akan tahu jika semboyan Bhineka Tunggal Ika atau lebih lengkapnya “Rwaneka dhatu winuwus Budha Wisma, bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, mangka ng jinatwa kalawan siwatawa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrawa” ini pun digunakan oleh Kerajaan Majapahit untuk membuat masyarakatnya yang terdiri dari latar belakang keagamaan berbeda untuk dapat hidup berdampingan, harmonis, dan menjaga kerukunan.

Dari pemaparan di atas, tentu saja semboyan bhineka tunggal ika ini masih sangat relevan untuk kehidupan berbangsa maupun bernegara mengingat realitas negara kita yang terdiri dari berbagai macam latar belakang kesukuan, etnisitas, ataupun agama yang berbeda-beda. Tentu saja semangat yang harus diafirmasikan adalah semangat toleransi, tidak mengedepankan superioritas golongan yang berujung merendahkan golongan lain, dan sudah sepatutnya yang dikedepankan adalah semangat persatuan dalam bingkaian persaudaraan.

Akan tetapi yang perlu kita renungkan juga, keragaman ini disamping bukti kekayaan Indonesia, keragaman ini juga bisa menjadi sumber permasalahan, seperti konflik horizontal yang dapat memecah integrasi nasional, ketika keragaman ini tidak disikapi dengan kedewasaan dalam berpikir maupun bertindak. Dalam pidatonya, Buya Syafii Maarif mengatakan, “kebinekaan hanya bisa bertahan lama manakala kita semua mengembangkan kultur toleransi yang sejati, bukan toleransi karena terpaksa atau toleransi yang dibungkus dalam kepura-puraan. Kesejatian merupakan salah satu puncak tertinggi dari capaian manusia beradab. Kini ke depan tergantung kepada pilihan bangsa ini: mau bertahan sebagai bangsa beradab, dan itulah pilihan yang benar dan tepat, atau mau hancur-hancuran sebagai bangsa biadab anti-toleransi, kemudian ditelan bumi, karena gagal mengelola bangsa dan negara dengan ratusan jenis suku dan etnis ini, sebuah mozaik yang sesungguhnya sangat elok, anugerah Tuhan yang Maha Esa yang tak ternilai harganya.”[1]

Kita bisa sedikit menengok perjalanan sejarah bangsa ini, dimana terjadi konflik-konflik, seperti kerusuhan Mei 1998, yang salah satu motif di dalamnya adalah sentimentil etnisitas di samping faktor-faktor lainnya. Selain itu, ada pula kelompok-kelompok tertentu yang mengatasnamakan Tuhan dan melakukan serangkaian aksi teror pembunuhan, ataupun permasalahan kontemporer yang dapat memicu ketegangan sosial, seperti pendikotomian istilah pribumi dan non pribumi. Tentu itu semua lahir karna sebuah sifat fanatisme sempit dan tidak adanya kedewasaan dalam berpikir maupun bertindak. Jelas sekali hal ini dapat semakin memperburuk keadaan negara yang menurut Buya Syafii Maarif adalah negara yang nyaris tergadai.

Dibutuhkan peranan semua kompenen bangsa untuk merawat keberagaman ini, terlebih lagi peranan spiritual kolektif ataupun agama-agama dalam menjaga keutuhan negara ini, karna bagaimanapun negara kita adalah negara yang berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk itu kaum agama yang sudah barang tentu mengakui eksistensi Tuhan perlu mengafirmasikan semangat dalam doktrin teologisnya sebagai upaya untuk menyelaraskan dengan nilai-nilai kebangsaan, yang di dalamnya terdapat suatu realitas yakni keberagaman ataupun perbedaan-perbedaan. Prof. Quraish Shihab dalam khotbahnya pernah mengatakan “saudara, keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan yang dikehendaki Allah untuk seluruh makhluk, termasuk manusia”. Kita pun bisa menengok potongan QS Al-Hujarat ayat 13, yang artinya “hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Dari ayat ini saja sudah jelas, perbedaan adalah kehendak Tuhan sendiri dan Tuhan tidak memerintahkan faktor perbedaan ini sebagai alasan bercerai-berai ataupun bermusuhan, malah sebaliknya, Tuhan memerintahkan kita untuk hidup harmonis, yakni saling mengenal satu sama lain. Kita pun bisa sedikit menengok dalam teologi Kristiani, yakni di dalam 1 Yohanes 4 :

saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi”.

Meskipun di sisi lain juga, agama yang dianggap merupakan hal yang sensitif, tentu bisa juga menjadi sumber perpecahan. Terlebih lagi, secara umumnya terdapat doktrin ekslusifisme religiusitas yang membuat agama akan berebut tafsir kebenaran dalam panggung sejarah. Tentu saja hal ini perlu disikapi dengan baik dan diperlukan paradigma keagamaan yang benar, agar tidak terjatuh pada fanatisme sempit yang bisa berujung pada tindak kekerasan. Karna sejatinya, doktrin teologis dalam agama merupakan suatu yang bernilai luhur, dan dapat menjadikan manusia lebih beradab. Kita pun bisa belajar dari ajaran para sufi, dimana memperlakukan manusia ataupun semua ciptaan-Nya dengan baik, mencintai semua manusia, itu merupakan perwujudan nyata cinta kepada Tuhan. Semangat beragama seperti inilah yang kita butuhkan, untuk bangsa dan dunia yang lebih baik.

[1] Dikutip dari buku Fikih Kebinekaan yang merupakan kumpulan kumpulan essay dari para cendikiawan muslim Indonesia. Buku Fikih Kebinekaan ini merupakan seri penerbitan dalam rangka mensyukuri 80 tahun Ahmad Syafii Maarif. Diterbitkan oleh Maarif Institute dan Mizan. 2015