Menggali Akar Diskriminasi Kelompok Kulit Hitam Skala Global

Share on facebook
Share on twitter

Oleh: Elizabeth Starla Lenina

Diskriminasi terhadap kelompok kulit hitam ramai diperbicangkan sejak kasus pembunuhan yang menimpa George Floyd sebagai korban. Floyd merupakan warga negara Amerika Serikat berdarah African-American, yang dicurigai menggunakan uang palsu saat melakukan transaksi di sebuah toko pada 25 Mei 2020. Singkat cerita, akibat kecurigaan tersebut akhirnya Floyd dikerumuni oleh empat orang polisi, termasuk Derek Chauvin yang menahan leher Floyd dengan lututnya hingga Floyd sulit bernafas dan akhirnya meninggal di tempat. (Hill, dkk, 2020)

Pemerhati hak asasi manusia bersama warga dunia berpendapat bahwa pembunuhan tersebut ada hubungannya dengan isu rasisme terhadap kelompok kulit hitam di Amerika Serikat. Kecaman dari warga dunia terhadap kabar duka tersebut dilayangkan melalui sosial media, khususnya melalui gerakan #BlackLivesMatter, didukung dengan partisipasi influencer ternama dunia. Akun @lovecomesaround pada 10 Juni 2020 mencuitkan tweet yang berbunyi,

 “George Floyd isn’t a “wake-up call”

The same alarm has been ringing since 1619. Y’all just keep hitting snooze

Sindiran tersebut mengartikan bahwa kasus George Floyd bukan satu-satunya dampak rasisme yang memakan korban jiwa. Selama ini sudah banyak kasus serupa, namun banyak dari kita memilih untuk diam. Kata-kata tersebut akhirnya dipakai oleh para demonstran di Amerika Serikat untuk ditulis pada papan tuntutan mereka sebagai perjuangan melawan rasisme di sana.  (Trtworld, 2020)

Berangkat dari fenomena tersebut, pertanyaan menarik muncul ketika penulis coba menggali apa yang sebenarnya menjadi asal dari diskriminasi terhadap kelompok kulit hitam. Penulis mendapati berbagai bidang dalam kehidupan terpengaruh akibat sub-ordinasi kelompok kulit hitam di mana pun mereka berada. Penting bagi kita untuk memahami akar masalah dari diskriminasi terhadap kelompok kulit hitam agar kita semakin memaknai gerakan anti-diskriminasi yang kita lakukan ke depannya.

 

Ekonomi-Politik dalam The Triangular Trade

Merritt dalam “The Triangular Trade” menceritakan, Benua Amerika Utara berhasil dieksplor oleh Perancis dan Britania Raya pada abad ke-17 sebagai bentuk ekspansi wilayah dan dipicu oleh rasa tidak mau kalah dari Spanyol dan Portugis yang sudah mengeksplor Amerika Selatan. Ambisi Perancis untuk menguasai Amerika Utara saat itu terdorong mundur karena kalah bersaing dengan karena kejayaan Britania Raya, hingga akhirnya berlanjut pada perselisihan antara Briania Raya dan pribumi Amerika Serikat dalam usaha meraih Kemerdekaan Amerika Serikat. Setelah melalui berbagai perseteruan, Britania Raya dan Amerika Serikat menjalin hubungan mutualisme, misalnya Amerika Serikat hadir sebagai pemasok senjata untuk Eropa saat Perang Dunia I dan berbagai kerja sama dagang yang mereka lakukan, termasuk salah satunya perdagangan budak. Kala itu, baik Amerika Serikat maupun Eropa sama-sama melihat Afrika sebagai wilayah berkembang yang memiliki potensi pekerja yang dengan biaya rendah. Melihat kesempatan itu, Eropa bergerak melakukan diplomasi perdagangan melalui jalur Afrika Barat dan mencapai kesepakatan bahwa Afrika akan memasok pekerja, sementara Eropa dan Amerika Serikat akan memasok kebutuhan barang dan jasa yang Afrika butuhkan sebagai timbal baliknya. (Merritt, 1960)

Kesepakatan tersebut tidak sama sekali merugikan Amerika Serikat dan Eropa, justru mereka melihat kesempatan ini untuk memperoleh pekerja dengan biaya rendah. Orientasi ekonomi tersebut diwarnai tujuan politik diawali dengan pembangunan pelabuhan di pantai barat Afrika, pasalnya pelabuhan tersebut berfungsi untuk memudahkan perdagangan antar ketiga pihak sekaligus menjadi tanda pijakan Eropa di Afrika. Dengan terbukanya pintu masuk Afrika, kemungkinan Eropa dan Amerika Serikat melakukan diplomasi yang bertujuan menjatuhkan Afrika secara perlahan semakin terbuka. Kendall dalam “White Superiority” menjelaskan adanya tendensi sifat superior yang dimiliki kelompok kulit putih ––masyarakat Amerika Serikat dan Eropa–– memungkinkan mereka melakukan politik yang menjatuhkan Afrika, terlebih kelompok kulit putih menganggap diri sebagai “tuan” bagi para kelompok hitam yang bekerja sebagai buruh di tanah mereka. (Kendall, 2012)

 

Dampak Berkepanjangan

Status sebagai pendatang dan penerima upah rendah selama ratusan tahun membuat kelompok kulit hitam dipandang sebelah mata. Masyarakat kulit putih merasa bahwa kelompok kulit hitam bukan bagian dari kelompoknya, sehingga muncul berbagai perjuangan yang mengatasnamakan emansipasi kelompok kulit hitam untuk melawan tatanan diskriminasi di masyarakat. (Castells et al., 2011) Sederhananya, untuk lepas dari stigma yang ada, kelompok kulit hitam harus mengembangkan potensinya untuk menjadi seimbang dengan kelompok kulit putih. Yang menarik, tidak semua kesempatan diberikan secara adil pada kelompok kulit hitam akibat adanya white privilege yang berlaku secara sosial, seolah-olah ada pembatasan terhadap kelompok kulit hitam untuk mengembangkan potensinya, khususnya pada bidang ekonomi.

Secara mendalam, buku “How Europe Underdeveloped Africa” menjelaskan bahwa pada akhirnya banyak dari negara di Benua Afrika kesulitan untuk mengembangkan kemampuan ekonominya akibat tekanan raksasa Amerika Serikat dan Eropa, sekaligus kelas sosial yang menempatkan kelompok kulit hitam pada posisi yang kurang menguntungkan. Hal ini sejalan dengan analisis ekonomi politik yang telah penulis jelaskan sebelumnya sebagai bentuk keberhasilan Amerika Serikat dan Eropa memojokan keberadaan Afrika beserta kelompok kulit hitam secara ekonomi, sosial, dan politik. (Shenton and Rodney, 1975)

 

Kesimpulan

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa diskriminasi ini berangkat dari orientasi ekonomi negara maju untuk melakukan pertukaran transaksi dengan pengeluaran seminim mungkin dan meraih keuntungan maksimal. Premis tersebut mengartikan  bahwa diskriminasi ini tidak akan selesai bila daya beli Afrika tidak dapat menyeimbangi negara adidaya yang mengelilinginya. Amerika Serikat dan Eropa yang kala itu mencari “mangsa empuk” berupa wilayah dengan daya beli rendah akhirnya mendapati Afrika sebagai incarannya. (M’baye, 2006) Terlebih karena ciri fisik yang jauh berbeda dengan kelompok kulit putih, hal tersebut otomatis menambah sekat pembeda antar keduanya. Karena stigma awal bahwa kelompok kulit hitam adalah warga kelas bawah yang miskin dan bekerja sebagai pekerja kasar, maka hingga saat ini kelompok kulit hitam masih sering diasosiasikan dengan hal buruk yang belum tentu benar mereka lakukan, misalnya dugaan penggunaan uang palsu pada George Floyd.

Berbagai gerakan dilakukan, tetapi merubah sebuah tatanan yang terbentuk atas jejak sejarah yang berangsur lama tentu tidak dapat terealisasi dalam satu atau dua hari. Butuh waktu tahunan untuk mempertahankan sikap melawan penindasan terhadap sub-ordinasi atas nama hak asasi manusia, khususnya bagi badan penjaga perdamaian dunia untuk lebih memfokuskan agenda anti-diskriminasi untuk menciptakan masyarakat yang damai dan bebas dari keterpurukan.

 

REFERENSI

Castells, M. et al. (2011) ‘The Power of Identity’, in The Information Society and the Welfare State. doi: 10.1093/acprof:oso/9780199256990.003.0006.

Kendall, F. (2012) Understanding White Privilege, Understanding White Privilege. doi: 10.4324/9780203961032.

M’baye, B. (2006) ‘The Economic, Political, and Social Impact of the Atlantic Slave Trade on Africa’, The European Legacy. doi: 10.1080/10848770600918091.

Merritt, J. E. (1960) ‘The Triangular Trade’, Business History. doi: 10.1080/00076796000000012.

Shenton, R. and Rodney, W. (1975) ‘How Europe Underdeveloped Africa’, Canadian Journal of African Studies / Revue Canadienne des Études Africaines. doi: 10.2307/484037.

 

SUMBER DARING

Hill, dkk. (2020). How George Floyd Was Killed in Police Custody. The New York Tiimes. Dilansir melalui https://www.nytimes.com/2020/05/31/us/george-floyd-investigation.html, pada 22 Juni 2020

Trt World. (2020). ‘Stop the Pain’ George Floyd’s Brother Testifies Before US Congress. Dilansir melalui https://www.trtworld.com/americas/stop-the-pain-george-floyd-s-brother-testifies-before-us-congress-37159, pada 22 Juni 2020

 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *