Melihat Kesiapan dan Langkah Strategis Indonesia Menghadapi Revolusi 4.0

Oleh : Anoraga Ilafi || FEB 2016

Saat ini, teknologi telah menjadi suatu hal yang mempermudah kegiatan manusia di berbagai bidang. Sebut saja handphone yang mempermudah manusia untuk berkomunikasi, sepeda motor yang mempermudah mobilisasi, hingga laptop yang membantu segala proses belajar. Ternyata, perkembangan teknologi tersebut sudah masuk ke tahap yang lebih jauh, seperti internet of things, 3D printing, nanotechnology, dan artifical intelligence yang membawa manusia ke peradaban teknologi yang baru. Sebanyak 4 teknologi tersebut dipatenkan pada Hannover Fair di Jerman pada tahun 2011 sebagai Revolusi Industri 4.0.

Revolusi industri adalah usulan dari Pemerintah Jerman yang mempromosikan komputerisasi dalam bidang manufaktur. Sebenarnya, revolusi ini diperkirakan akan lebih mempergunakan mesin canggih sebagai tulang punggung produksi. Namun, pada perjalanannya, revolusi ini juga melahirkan banyak inovasi yang mengubah pola kebiasaan masyarakat saat ini, sebut sajae-commerce dan artifical intelligence. E-commerceadalah segala kegiatan bisnis mulai dari pemesanan, pemasaran, bahkan pembayaran dapat dilakukan melalui internet. Sedangkan artifical intelligence adalah kecerdasan buatan yang diciptakan mesin komputer layaknya manusia.

Di Indonesia sendiri, adanya Revolusi 4.0 ini dapat diterapkan di berbagai macam bidang seperti ekonomi, kesehatan dan kedokteran, agraria, kelautan, dan masih banyak lagi. Berikut akan dibahas kondisi maupun kesiapan Indonesia menghadapi Revolusi 4.0 di berbagai sektor.

Pemanfaatan Revolusi Industri 4.0 di Sektor Perekonomian Negara

Indonesia sejatinya sudah banyak memanfaatkan hadirnya Revolusi Industri 4.0, seperti di sektor perekonomian adanya e-commerce dan transportasionline. Hadirnya Tokopedia, Bukalapak, Lazada, OLX, hingga Shopee menambah persaingan yang sedemikian ketat di sektor e-commerce. Transportasi online seperti Gojek dan Grab juga tidak mau kalah bersaing dengan menerapkan strategi banting harga maupun memperluas jaringan operasi. Perkembangan e-commerce di Indonesia dapat dikatakan sangat pesat jika dilihat dari nilai transaksi yang berjalan. Berikut merupakan grafik nilai transaksi e-commerce di Indonesia dari tahun 2015 sampai Agustus 2018.

Nilai Transaksi E-commerce di Indonesia

Di tahun 2016, terjadi peningkatan yang signifikan terhadap nilai transaksi e-commerce, yaitu sekitar 23 triliun rupiah dari sekitar 45 triliun rupiah ke 68 triliun rupiah. Di tahun 2017, nilai transaksi e-commerce terus meningkat sampai angka 88 triliun rupiah. Sampai Agustus 2018, peningkatan nilai transaksi e-commerceterus berlanjut sampai di angka sekitar 144 triliun rupiah. Jika dibandingkan negara di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam hal nilai transaksi e-commerce dan disusul oleh Vietnam dan Thailand, yangdimana nilainya seperempat dari nilai yang dimiliki Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia siap dalam memanfaatkan e-commerce dalam rangka menghadapi Revolusi 4.0.

Disamping melihat dari perspektif keberhasilan e-commerce, perusahaan transportasi online di Indonesia juga berhasil menopang perekonomian di berbagai daerah. Perusahaan Gojek misalnya yang berhasil mengekspansi wilayahnya di 50 daerah baik kota maupun kabupaten, seperti Pematang Siantar, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Palu.

 

Peta Wilayah Operasional Gojek

Sedangkan kompetitor Gojek, Grab, lebih banyak mengekspansi wilayah operasinya hingga 111 kota/kabupaten dari Aceh sampai Papua. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan transportasi online turut ambil peran dalam menopang perekonomian daerah dan mempersiapkan Indonesia secara matang untuk menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0.

Pemanfaatan Revolusi Industri 4.0 di Sektor Agraria

Tinggi atau rendahnya pertumbuhan peningkatan pangan dapat ditentukan oleh tingkat produktivitas para petani. Agriculture Value Added per Worker  dapat dijadikan indikator dalam menentukan tingkat produktivitas petani. Indikator ini ditentukan dari selisih nilai output dengan nilai input sektor agraria. Menurut Bank Dunia, tingkat produktivitas petani Indonesia sedang mengalami peningkatan yang signifikan per tahunnya, khususnya di tahun 2011-2016 jika dilihat dari Agriculture Value Added per Worker.

Peningkatan produktivitas petani ini disebabkan oleh kemajuan teknologi dalam proses produksi pertanian seperti rotavator, sprinkler, pupuk kimia, dan lain-lain. Namun, produksi pertanian strategis ternyata menurun setiap tahunnya dan bahkan tidak mencukupi kebutuhan nasional per tahunnya. Di beberapa kabupaten, produksi beras misalnya harus turun produksi sebesar hampir 40%. Hal ini diakibatkan oleh tidak ada solusi jika terjadi kemarau panjang, lahan pertanian yang mulai menurun, serta migrasi pekerjaan oleh petani itu sendiri.

Di negara-negara lain, banyak teknologi yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut seperti hand and treadle pumps sebagai alat pompa di musim kemarau yang diterapkan oleh para petani di sebagian afrika dan NBD Nanotechnologies’ Fog Net yang merupakan alat pompa modern yang mulai diterapkan di San Francisco, Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih belum optimal dalam pemanfaatan teknologi di sektor pertanian.

Kesiapan Sektor Kelautan Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Indonesia memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menempatkan posisinya sebagai negara maritim poros dunia. Sumber daya Indonesia di sektor kelautan sangatlah besar. Tak pelak, laut Indonesia yang sepanjang lebih dari 5000 kilometer memberikan konstribusi besar bagi perikanan dunia. Menurut United Nations Development Programme (UNDP), perairan Indonesia merupakan habitat bagi 76 persen terumbu karang dan 37 persen ikan karang dunia.

Indonesia sendiri di tahun 2018 sudah memaksimalkan potensi kelautan yang ada dengan menerapkan berbagai kebijakan, salah satunya dengan memperketat kawasan perbatasan laut agar terhindar adanya illegal fishing. Kebijakan perizinan penggunaan cantrang bagi nelayan serta moratorium izin kapal asing menangkap ikan di Indonesia juga berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap produksi perikanan Indonesia. Alhasil, total produksi perikanan nasional sampai awal 2018 mencapai 23,26 juta ton. Hasil ini merupakan yang terbesar se-Asia Tenggara.

Namun, jika dilihat dari neraca perdagangan, sektor perikanan Indonesia ternyata masih kalah dengan negara-negara lainnya. Hal ini dikarenakan Indonesia masih membutuhkan stok impor beberapa jenis ikan seperti salmon dan trout untuk bahan baku industri yang notabenenya jenis ikan tersebut susah dibudidayakan di Indonesia. Selain itu, teknologi yang dipakai kebanyakan nelayan Indonesia masih sangat sederhana jika dibandingkan dengan nelayan di negara Asia Pasifik.

Dampak Disruptive Adanya Revolusi Industri 4.0 bagi Indonesia Saat Ini

Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat mempengaruhi keterserapan tenaga kerja dalam indusri dan berdampak pada peningkatan angka pengangguran. Selain itu, perkembangan ini juga dapat menggantikan manusia dalam berbagai jenis pekerjaan. Misalnya, di Amerika Serikat ada eksperimen mobil yang mengemudi secara otomatis sehingga tidak memerlukan lagi sopir. Hal ini jika diterapkan secara inklusif disana dan akan menghilangkan jenis pekerjaan sopir.

Di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi juga berdampak disruptif di berbagai situasi. Hal ini dibuktikan adanya konflik antara pengemudi ojek konvensional dan pengemudi ojek online yang sampai saat ini masih tak kunjung selesai. Selain itu, permasalahan dinonaktifkannya buruh-buruh di berbagai daerah karena tugasnya sudah tergantikan oleh teknologi juga belum menemukan titik terang di sejumlah daerah. Belum lagi masih ada ratusan ribuan sarjana yang masih menganggur akibat kesulitan mencari pekerjaan. Hal ini membuktikan bahwa disisi lain Indonesia masih belum mampu menerapkan “Making Indonesia 4.0” secara baik. Masih sangat diperlukan upaya-upaya perbaikan untuk menanggulangi permasalahan diatas.

Strategi Melancarkan “Making Indonesia 4.0” disamping Masalah Disruptif Teknologi yang Terjadi

1. Penerapan dan Pendidikan NBD Nanotechnology Secara Inklusif untuk Daerah Pertanian yang Rawan Kekeringan
Para petani di Indonesia selalu mengalami kesulitan dalam menghadapi kekeringan di daerahnya. Biasanya para petani selalu mengandalkan saluran irigasi sederhana maupun bendungan. Ada suatu saat dimana kondisi petani tidak bisa mengandalkan kedua hal tersebut karena cuaca yang begitu ekstrim. Hal ini dapat menjadi akar permasalahan mengapa banyak produksi petani di Indonesia yang menurun. NBD Nanotechnologydapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut dengan mengefisiensikan manajemen sumber daya air sebesar 80%. Teknologi ini sudah diteterapkan di sejumlah wilayah penghasil pertanian terbesar di Amerika Serikat, salah satunya di San Francisco.
Di Indonesia sendiri masih belum ada daerah yang menerapkan NBD Nanotechnology dikarenakan biaya yang lumayan mahal. Selain itu, untuk menerapkannya dibutuhkan pengetahuan teknologi yang cukup tinggi agar petani tidak salah dalam menerapkannya. Berbeda dengan realita petani di Indonesia yang rata-rata taraf pendidikannya masih rendah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah agar mampu membekali pengetahuan petani di Indonesia.
Jika teknologi ini diterapkan, maka permasalahan penurunan produksi akibat cuaca yang ekstrim dapat segera teratasi. Hal ini juga akan membuat peluang Indonesia untuk mengurangi impor menjadi besar. Pastinya masyarakat akan merespon positif tentang pengimplementasian teknologi ini.

2. Pemerataan Teknologi Resirculating Aquaculture System(RAS) demi Optimalisasi Neraca Perdagangan Sektor Perikanan
Walapun memiliki laut yang sangat luas, Indonesia ternyata tidak lepas dari impor ikan. Hal ini yang menjadi penyebab utama mengapa neraca perdagangan Indonesia di sektor perikanan masih kurang optimal. Pemerintah sendiri sebenarnya punya solusi dalam menangani permasalahan ini, yaitu dengan menerapkanResirculating Aquaculture System (RAS) yang dapat menghasilkan produksi ikan dengan produktivitas yang sangat tinggi. Sistem RAS juga dapat menghemat air dandapat dilakukan di area yang terbatas sampai pelosok daerah pun sekalian.
Namun, penerapkan sistem RAS baru dilakukan di sedikit provinsi saja, diantaranya ada Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah. Sudah seharusnya program dilaksanakan di semua daerah di Indonesia mengingat masih banyak provinsi yang masih kekurangan pasokan ikan, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jambi. Dengan penerapan program ini, secara inklusif akan memperkecil pasokan ikan yang harus diimpor dari luar negeri. Mengingat Indonesia masih banyak impor ikan dari beberapa negara diantaranya ada Tiongkok, Jepang, hingga Oman.
3. Optimalisasi Gig Market untuk Menjawab Permasalahan Tenaga Kerja di Era Digital
Gig Market merupakan istilah yang terus meningkat popularitasnya di ranah pembahasan ekonomi ketenagakerjaan. Gig market itu sendiri adalah istilah yang menggambarkan pasar tenaga kerja bagi para pekerja mandiri atu sering kita sebut freelance. Peningkatan popularitas gig market terjadi karena adanyapergeseran pola demografi dan laju teknologi yang semakin cepat. Perlahan tapi pasti, hal ini mengubah banyak hal mendasar mengenai pekerjaan, tenaga kerja, dan hubungan kerja.
Indonesia sendiri harus mempersiapkan pergeseran pola demografi dan laju teknologi tersebut. Pertama, pemerintah harus menyediakan wadah agar pekerja mandiri atau freelance dapat mendapat jaminan pekerjaan dengan cara menjadi penghubung supply anddemand di pasar tenaga kerja. Kedua, pemerintah harus memberikan ruang para pekerja mandiri untuk berkreasi dengan memberikan pelatihan atau workshop demi meningkatkan kualitas mereka. Ketiga, untuk mengurangi pengangguran akibat adanya teknologi, pemerintah dapat menyediakan sekolah vokasi berbasis teknologi agar para angkatan kerja dapat mendapatkan pekerjaan secara mandiri dan kebutuhan di era digital.
Memang, masih banyak pekerjaan rumah dalam mewujudkan jargon “Making Indonesia 4.0”. Indonesia membutuhkan perencanaan, eksekusi, dan koordinasi yang matang dari berbagai stakeholders agar dapat mewujudkan Revolusi Industri 4.0 yang berkeadilan. Perlu dukungan dari masyarakat juga dalam berbagai hal untuk mendorong kinerja pemerintah mewujudkan hal tersebut. Oleh karena itu, kritik dan apresiasi harus tetap dilontarkan ke pemerintah agar dapat “Making Indonesia 4.0” yang berkeadilan.

Referensi

https://www.liputan6.com/tekno/read/3230715/5-prediksi-tren-e-commerce-di-indonesia-pada-2018

http://pbj.langsakota.go.id/r/e-commerce-dan-regulasi-baru

https://www.go-jek.com/blog/kini-go-jek-telah-hadir-di-25-kota-baru-di-indonesia/

https://data.worldbank.org/indicator/NV.AGR.EMPL.KD

https://www.theglobaleconomy.com/Indonesia/Agriculture_productivity/

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3656305/produksi-padi-turun-393-persen-akibat-kemarau

https://ugm.ac.id/id/berita/16844-sektor.pertanian.menurun.sudah.saatnya.petani.diperhatikan

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4031211/demi-perikanan-ri-susi-ingin-3-kebijakan-ini-diperkuat

http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jsl/article/view/6297/5534