Keluar Sejenak dari Jumlah Angka Kekerasan Seksual, Masyarakat Kita Harus Sembuh Dulu!

Share on facebook
Share on twitter

Oleh: Sayyidatiihayaa Afra G. Raseukiy

“this system can use love and romance as a form of opression and control”

Jessa Crispin, Why I am Not A Feminist.

 Perkara kejahatan seksual selalu menjadi lahan perdebatan yang selalu gurih untuk dikunyah. Beberapa orang akan menentang kekerasan seksual sebagai bentuk dehumanisasi, amoral, dan patriarkal (eng: patriarchal). Upaya peningkatan kualitas hidup perempuan dengan memberikannya kesempatan untuk bekerja, peningkatan peran perempuan dalam sektor pengambil keputusan dengan menyediakan kuota khusus perempuan di lembaga legislatif, dan/ atau upaya penghapusan batas ruang gerak perempuan dengan mengecam peraturan-peraturan yang mewajibkan perempuan untuk ada di rumah sebelum pukul 23:00, selalu dengan semangat diupayakan. Hal tersebut tentu memberikan angin segar, bahwa seminimal-minimalnya ada pihak yang concern terhadap kedudukan perempuan dalam dinamika sosial non-egaliter ini.

 Tapi hasil temuan Komnas Perempuan misalnya pada tahun 2018 memperlihatkan bahwa kejahatan seksual terhadap perempuan didominasi oleh orang terdekatnya: paman, ayah, kakek. Pertanyaan filsafati yang sebenarnya yang muncul adalah mengapa upaya kampanye gerakan anti kekerasan terhadap perempuan yang masif dan cenderung blak-blakan seolah hanya demagog belaka, tanpa perubahan signfikan, dan cenderung elitis. Diskursus mengenai kekerasan terhadap perempuan terkesan dianomali oleh warrior-warrior tertentu. Apakah memang mereka punya engangemet berlebih? Atau memang pada faktanya, kelas pekerja tak bisa terlalu berfokus pada visi-visi yang terlalu kompleks sebab perlu konsumsi energi berlebih.

 Tulisan ini akan berfokus membahas bagaimana otak laki-laki merespons kedudukan perempuan, bahwa di banyak kepala masyarakat, alat kelamin sama dengan gender. Tulisan ini akan membawa angin untuk menyadarkan bahwa penyebab utama kekerasan seksual adalah patriarki dan musuh terbesar kekerasan terhadap perempuan (secara umum) bukan hanya laki-laki atau perempuan, namun lebih tepatnya patriarki—yang ironisnya ditradisikan bukan hanya oleh laki-laki namun juga perempuan.

 Saya pernah menulis di laman blog pribadi mengenai hierarki sebagai konsep khayalan masyarakat. Bahwa pada pokoknya hierarki terbentuk karena adanya peran budaya yang meligitimasi membatasi gerak perempuan. Pada waktu itu istilah patriarki belum dikenal, peran gender yang cenderung namanya belum menjadi perbincangan kompleks sekaligus menggetirkan. Namun tradisi menempatkan perempuan sebagai second class citizen sudah ada (tahun 1492 oleh masyarakat Afro-Asian di daratan Amerika). Tugas feminin untuk hormat kepada suami sebejat apapun ia sudah dikenal. Perlu diingat bahwa pada masa itu pembagian jenis kelamin otomatis memengaruhi kedudukan peran sosial seseorang atau yang selanjutnya dikenal sebagai gender. Yuval Noah Harari dalam Sapiens bab “Tidak ada Keadilan dalam Sejarah” menyatakan bahwa ketentuan biologis ini kemudian memengaruhi pikiran alam bawah sadar manusia, secara psikologis ketentuan tersebut memberikan legitimasi sedemikian rupa atas segmentasi yang diciptakan manusia dengan dalih agama dan sejarah untuk membenarkan tindakan pembatasan gerak satu kelompok atas kelompok lainnya, sehingga muncullah diskualifikasi-diskualifikasi sosial, intelektual, bahkan mental karena kesempatan yang dimiliki tidak sama—diskriminasi tersebut nyata adanya.

 Ibu-ibu yang mengajari putrinya bahwa pemerkosaan di dalam keluarga itu tidak ada karena transaksi mas kawin merupakan bentuk persetujuan atas apapun tindakan suami, atau pengajaran bahwa menuruti semua perintah suami sama dengan pahala, merupakan pola pikir absurd. Pertama, pandangan yang demikian akan selalu meletakkan perempuan sebagai objek submisif dimana meneriakkan suami karena memaksa untuk bercinta haram hukumnya. Sebaliknya, secara teorganisir perempuan harus selalu mencari alasan pemaaf dari setiap tindakan suami yang secara moral salah. Kedua, pandangan yang demikian perlahan sejak dini membentuk arogansi di alam bawah sadar laki-laki bahwa mereka lebih unggul. Masyarakat patriarkis selalu mendidik laki-laki untuk bertindak dan berpikir secara maskulin dan perempuan untuk bertindak dan berpikir secara feminin, dan menghukum siapa pun yang berani melintasi batas-batas tersebut (Harari, 2017: 180).

 Secara biologis hal tersebut dapat terjelaskan, bahwa laki-laki terprogram untuk menjadi ambisius dan kompetitif, mengejar keunggulan dalam bisnis dan politik, sementara perempuan cenderung menepikan dirinya di rumah untuk mengurus anak. Hal ini terjadi sebab selama berevolusi perempuan yang tengah hamil akan kesulitan untuk mencari makan, maka ia akan membutuhkan laki-laki untuk membantunya. Perempuan tak punya pilihan lain untuk bertahan hidup selain menuruti syarat apapun yang diberikan laki-laki kepadanya, sekali pun syaratnya harus menggunakan tudung kain super besar yang membalut tubuhnya karena lelakinya akan cemburu jika kemolekkan tubuh perempuan menjadi bahan tontonan laki-laki lain.

 Jika tidak punah manusia akan terus berevolusi, gen patrarkis yang masih menyisa perlahan akan beradaptasi dengan perkembangan zaman dan fakta bahwa tidak ada hubungan kausal antara kepemilikan rahim dan kompetensi perempuan dalam membuat sebuah keputusan yang berbobot.  Membahas gender akan selalu jadi perkara yang rumit. Ketidakpahaman dan sikap masa bodoh laki-laki atas hal tersebut merupakan bentuk kedunguan yang serius. Saat ini orang tak terpelajar akan merasa bahwa marahnya laki-laki adalah benar dilampiaskan dengan memukul istri, di sana lah pegiat hak perempuan masuk.

 Penghentian terhadap kejahatan seksual memang melelahkan. Ejekan yang datang dari mulut budayawan patriarki terjemahkan saja sebagai bentuk proklamasi kebodohan. Sungguh kekerasan berbasis gender akan selalu ada sepanjang anggapan bahwa laki-laki lebih penting daripada perempuan masih mengakar di masyarakat. Perlu diingat bahwa keadaan biologis perempuan yang konstan tidak boleh bercampur dengan paradigma gender yang sangat sosiologis.

Referensi

Komnas Perempuan. 2019. Catatan Tahunan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan. Diaksesdarihttps://www.komnasperempuan.go.id/file/Catatan%20Tahunan%20Kekerasan%20Terhadap%20Perempuan%202019.pdf pada 28 Maret 2020

Yuval Noah Harari. 2018. Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Jakarta: Kpg

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *