Kala Bergerak 2.0 – Ketika Musik Menuturkan Kisah

JATINANGOR — Sebuah persembahan dari Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse), Universitas Padjadjaran telah hadir! Dengan tagline “Ketika Musik Menuturkan Kisah”, Kala Bergerak 2.0 berhasil dilaksanakan hari Sabtu kemarin, tanggal 21 April 2017 yang bertepatan dengan Hari Kartini, di lapangan PPBS, Unpad Jatinangor. Acara bertemakan “Seksisme” yang disponsori oleh SuperMusic.id dan Cosmic Apparel ini menghadirkan berbagai pemusik, baik band Indonesia maupun band di Unpad sendiri, seperti MOCCA, Runaway Project, Symphony Polyphonic, Olegun and the Gobs, Siddharta, El Karmoya, dan Mayonaise. Kala Bergerak 2.0 diramaikan oleh band yang kebanyakan adalah band sastra yang berasal dari FIB, karena konsep acara ini sendiri adalah kaderisasi yang menghimpun angkatan 2013 hingga 2015.

Kala Bergerak

Kala Bergerak 2.0 berusaha mengangkat social movement yaitu #PeduliKata yang mengajak semua orang untuk lebih menjaga perkataan agar tidak menjatuhkan atau menyakiti, walaupun hanya bercanda sekalipun. Hal ini dikuatkan dengan mengunggah beberapa comic strip di Instagram (@kala.bergerak) mengenai perilaku atau kegiatan sehari-hari tentang seksisme.

Sebelum memasukki venue, para pendatang disuguhkan dengan dua lorong waktu; yaitu sosok Alice dari “Alice in Wonderland” dan tokoh-tokoh wanita. Pemilihan tokoh-tokoh ini didorong karena latar belakang edukasi sejarah yang membuat mereka mempelajari sosok dari wanita-wanita hebat yang sesuai dengan tema Kala Bergerak 2.0, seperti Kartini, Cut Nyak Dien, dan lain-lain.

Kala Bergerak

 

Kala Bergerak

Ketika kita berbicara tentang Kartini, hal ini sangat berhubungan erat dengan feminisme, dimana wanita Indonesia pada saat itu hanya bekerja di rumah dan menjadi istri yang baik dalam artian hanya memasak atau membereskan rumah, namun setelah Kartini muncul, stigma tersebut hilang. Hari Kartini dirayakan sebagai simbol pergerakan tentang pemberdayaan wanita dan penyetaraan hak itu sendiri. “Kalau menurut kami mah yang paling penting itu saling menghargai peran masing-masing aja, cewe sama cowo karena semua sudah ada posisi, peran, dan kadarnya masing-masing.” menurut Olegun and the Gobs saat ditanya mengenai feminisme.

Kala Bergerak 2.0 sukses menghibur para mahasiswa yang datang. “Semoga untuk kedepannya, acaranya lebih besar dan lebih bagus lagi, dan ikatan antar mereka yang mengusahakan ini juga menjadi kuat. Terus juga ada regenerasi, jadi adek-adek bisa ngerasain apa yang kita rasain, kalau bisa bahkan jangan sastra aja, fakultas lain juga ikutan.” harap Olegun and the Gobs. “Beranilah dalam berkarya.”

Kala Bergerak

Acara ini merupakan salah satu dari dua program kerja besar di Himse; yaitu Kala Bergerak sendiri dan History Week yang biasanya berjangka waktu lebih panjang dan seluruh kegiatannya berbau akademik. Kejenuhan akan acara seperti History Week ini, yang terus menerus mengungkit akademik, membuat Himse ingin membentuk acara seni yang berfokus pada musik, sehingga terbentuklah Kala Bergerak pertama pada tahun 2015. Mengapa musik? Karena hampir setiap hari, musik didengarkan, dan ada orang-orang yang bisa menyatu dengan salah satu musik ataupun musisi. Hal ini menjadi berkelanjutan dan diwujudkan oleh Rahayu Riezkyani, project officer Kala Bergerak 2.0. Namun ada sedikit perbedaan antara Kala Bergerak pertama dan sekarang. Di tahun 2015, Kala Bergerak mengangkat tema throwback musical ‘80an dan mengarah ke seni, sedangkan Kala Bergerak 2.0 mengangkat tema Seksisme dan menanamkan nilai-nilai social movement. Sebelum acara berlangsung, ada sebuah pra-event pada tanggal 22 Maret, dimana penjualan tiket berlangsung dan menggebyarkan sayembara fotografi dan mirip tokoh panutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *