Oleh : Fahri Muharram | FIB 2016

Benarkah modernitas selama ini telah membawa maslahat terhadap kita sebagai umat manusia atau malah sebaliknya? Terlepas dari pelbagai kenikmataan teknologi peradaban modern seperti industrialisasi di berbagai bidang kehidupan yang memudahkan dan memenuhi segala kebutuhan kita, obat – obatan modern yang menyembuhkan kita, tentu terlalu naif jika kita bilang modernitas hanya membawa kenikmatan tersebut tanpa melihat mudharat yang nyata dari modernitas. 

Dikutip dalam sebuah tulisan karya John Zerzan[1] yang berjudul [2]Why Primitivism ? Penulis biografi Guy Debord, Anselm Giap[3] pernah berkata dengan mengacu pada misteri zaman sekarang bahwa, “Hasil dari aktivitas manusia sangatlah bertentangan dengan kemanusiaan itu sendiri,” pernyataan tersebut membangkitkan sebuah pertanyaan yang diajukan sekitar 50 tahun yang lalu oleh Joseph Wood Krutch[4]: ”Apa yang sudah diberikan oleh suatu ‘kesempatan menjadi lebih manusiawi’ terhadap ‘kendali atas alam’?”

Adapun hasil dari aktivitas manusia zaman sekarang sudah menjadi krisis yang menyebar secara luas dan mendalami setiap bidang kehidupan. Kenyataan akan adanya krisis dari aktivitas manusia cukup sering kita lihat bahkan kita rasakan. Sebut saja dengan meningkatnya laju kepunahan spesies akibat deforestasi[5] hutan – hutan untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit oleh manusia, meningkatnya angka kematian pada hewan — hewan biosferik laut akibat terpolusi limbah plastik yang diproduksi manusia, adanya lubang di ozon dan sudah tercemar nya air, serta tanah dan udara akibat limbah industrialisasi.

Hasil dari aktivitas manusia tentu tidak bisa dipisahkan dari eksistensi manusia sendiri. Peradaban manusia sendiri sudah ada semenjak ratusan ribu tahun yang lalu dan sudah selama itu manusia berusaha untuk memiliki kendali atas alam dan sudah selama itu juga manusia sudah meninggalkan jejak dari aktivitasnya, contohnya ialah peninggalan arkeologis berupa kjokkenmoddinger dan abris sous rouche, yakni peninggalan manusia dari aktivitas food hunting and gathering culture[6] yang berupa sampah dapur dan juga berupa gua — gua yang pernah ditinggali oleh manusia ketika mereka telah kehabisan makanan di daerah tersebut  pada zaman mesolitikum.

Sejarah telah membuktikan bahwa dalam segala aktivitasnya, manusia sepertinya tidak bisa untuk tidak meninggalkan jejak di muka bumi. Namun, permasalahannya ialah dibandingkan dengan jejak yang dibuat manusia pada masa silam yang masih berupa tumpukan sampah — sampah dapur, hasil dari aktivitas manusia zaman sekarang memiliki dampak yang cukup masif dalam setiap bidang kehidupan serta mengancam keberlangsungan makhluk hidup lainnya dan bahkan mengancam keberlangsungan hidup planet kita sendiri.

Tentu modernitas bukanlah yang patut kita salahkan dari apa yang terjadi sekarang. Tentu kita tidak bisa saja meninggalkan modernitas begitu saja dan beralih mencari penggantinya. Seperti dengan meninggalkan kehidupan modern dan kembali hidup seperti para nenek moyang kita terdahulu  yang hidup dengan cara food hunting and gathering. Tentu kita tidak bisa meninggalkan kehidupan modern begitu saja dan mengimpikan dunia primitive yang utopis.

Modernitas hanya lah suatu periodisasi waktu yang merangkum aktivitas — aktivitas dari manusia. Jika kita masih ingin mencari penyebab dari semua ini yang sebenarnya patut disalahkan atas krisis yang terjadi sekarang ialah kita, kita sebagai umat manusia. Kita lah yang patut disalahkan atas naiknya laju kepunahan hewan — hewan di darat,udara dan dilaut dengan cara mengotori daratan dan lautan dengan sampah – sampah plastik yang kita gunakan. Tercemarnya udara,tanah dan air akibat limbah – limbah yang kita produksi sendiri. Sebenarnya kita lah perancang dari katastrofi yang melanda kita sendiri yang terjadi di planet kita.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk memperpanjang katastrofi yang tak terelakkan tersebut. Kemudian, apakah ada suatu aksi penebusan untuk menebus  apa yang sudah kita perbuat sekarang? 

Mungkin yang bisa kita lakukan sekarang ialah dengan melakukan perubahan terhadap lingkungan kita. Perubahan yang dimaksud ialah suatu aksi perubahan terhadap kebiasaan buruk kita sebagai umat manusia yang dapat memberikan dampak buruk terhadap lingkungan tidak hanya itu saja perubahan tersebut tentunya harus bersifat signifikan, dengan kata lain kita mampu memahami dasar — dasar dari permasalahan seperti ekonomi politik, pemerintahan, dan regulasi — regulasi yang mengatur lingkungan secara kaffah.

Pentingnya adanya aksi tersebut ialah untuk memastikan agar lingkungan kita tetap terjaga dan sebagai bentuk penebusan akan apa yang sudah kita perbuat terhadap rumah kita, aksi terebut tentu tidak hanya untuk menyelamatkan diri kita sendiri sebagai umat manusia melainkan untuk menyelematkan kehidupan di bumi kita secara general.

[1] John Zerzan adalah anarchist dan filsuf primitivist Amerika dan juga author. https://en.wikipedia.org/wiki/John_Zerzan

[2] John Zerzan,2002,Why Primitivism ?

https://theanarchistlibrary.org/library/john-zerzan-why-primitivism

[3] Anselm Giap . adalah professor dan pengajar yang mengajar di Italy https://en.wikipedia.org/wiki/Anselm_Jappe

[4] Joseph Wood Kructh adalah penulis, kritikus, dan naturalist America

https://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Wood_Krutch

[5] Deforestasi ialah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nir-hutan , yakni pertanian, peternakan atau kawasan perkotaan. https://id.wikipedia.org/wiki/Pengawahutanan

[6] Food Hunting and gathering culture ialah budaya yang dilakukan beberapa grup yang bergantung pada makanan liar untuk bertahan hidup

https://www.britannica.com/topic/hunting-and-gathering-culture