[DENGAN CINTA] Corona Memanusiakan Kita?

Share on facebook
Share on twitter

Di suatu hari, dunia menjemput takdirnya.

Takdir berisi kesedihan yang kala itu masih terasa jauh, berbataskan layar televisi dan gawai. Di sini, ada kita…, di sana ada mereka

Hari ini, 19 Maret 2020, pukul 14.01 GMT.

Ada 227.761 kasus di seluruh penjuru dunia.

Takdir telah memaksa semua orang mengambil jeda, dalam debar dan penantian kabar. Sekarang hanya ada KITA

95.297 kasus yang selesai, 9.304 orang meninggal.

Hanya 10%?

Ya, tapi 9.304 itu BUKAN ANGKA, melainkan NYAWA.

 Mereka semua manusia yang terikat kasih sayang dengan seseorang,

Manusia dengan mimpi-mimpi yang mungkin tak sempat diwujudkan.

Harus pergi tanpa bisa kembali. Sedih, ya?

Kita membeli belasan kotak masker, hand sanitizer, dan berkeranjang stok makanan.

Namun, apa kita akan selamat jika petugas medis ikut sakit karena Alat Pelindung Diri mereka habis diborong dan ditimbun? Bagaimana dengan tetangga kita menjadi rentan kelaparan?

Corona tak lebih mengerikan dari keserakahan.

Kita mungkin punya uang untuk berkumpul di tempat makan atau pelesiran.

Dengan usia yang masih muda, daya tahan tubuh yang masih baik, corona tak akan mematikan.

Tapi corona bukan hanya tentang kita ditulari seseorang, melainkan juga tentang kita menulari seseorang yang mungkin kesulitan bertahan.

Corona ajarkan kita membunuh keegoisan.

Tempat ibadah dikosongkan, corona menyuruh kita untuk kembali memaknai keberadaan Tuhan, yang tak terbataskan ruang khusus, yang tak hanya hadir di tengah ramainya seruan.

Tuhan tetap ada meski di keheningan.

Kita tak pernah berdoa untuk kedatangan corona..

Ayo mengingat,

Banyak doa yang terkabul, walau tanpa usaha untuk mengabulkannya. Mungkin doa kita salah satunya?

Banyak pula doa yang tak kunjung terkabul, walau banyak usaha dan jerih payah untuk mengabulkannya. Mungkin doa kita juga salah satunya?

Bingung? Tetaplah berdoa, itu upaya terkecil yang menjaga kita dari ‘penyesalan tidak berbuat apapun.’

Mimpi

Mimpi apa semalam? Mimpi baik yang ingin dikabulkan atau mimpi buruk yang disesalkan?

Katanya mimpiku ‘kan terwujud, mereka lupa tentang mimpi buruk.” Rumpang – Nadin Amizah

Corona pernah menjadi bagian dari mimpi buruk yang tak ingin kita lihat dari dekat. Dia sekarang ada di sini, menjabarkan bahwa hidup tak lengkap jika tanpa ujian.

Harapan

Doa sudah diucapkan, mimpi sudah digantungkan. Harapan besar yang ditempatkan pada mereka untuk segera menyembuhkan, namun harapan yang tidak kalah besar juga ditempatkan pada dirimu, “Jangan.. jangan keluar. Tahan seluruh aktivitasmu di rumah.”

Semua orang terkurung di ruangan bersama harapan
“Ayo, kembali beraktivitas, kembali bertemu teman-teman”

Terbayang jika rasa sukar memenuhinya datang.. kamu menyerah, atau justru semua orang yang menyerah.

Semesta menegur kita tentang harapan yang tak selamanya terpenuhi dan melahirkan risiko tinggi.

Bersabarlah, semua akan terlewati. Sampai akhirnya kita menyadari, semuanya telah berakhir.

Pilihan ada di tangan kita untuk memutuskan.

Menjadi manuasia di engah corona, atau menjadi pembunuh yang lebih buruk dari corona itu sendiri.

Jangan lupa berdoa, jangan berhenti bermimpi.

Jangan pula menyerah untuk berharap, karena Tuhan sudah menyiapkan skenario terbaik, lebih dari yang pernah kita minta.

Raga kita berjarak, tapi hati akan berhimpun. Untuk setiap nyawa yang berharga: lekas sembuh dunia, tak hanya dari sakitnya corona tapi dari penyakit kemanusiaan lainnya.

AKU, KAMU, KITA LAWAN CORONA.

Salam dan peluk hangat,

Padjadjaran Care.

Departemen Advokasi dan Pelayanan Mahasiswa
Bidang Dinamisasi Kampus dan Kebijakan Publik
BEM Kema Unpad 2020
Kabinet Eksplorasi Makna

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *