Pada suatu Sabtu yang cerah, kami bersama-sama memutuskan untuk berangkat dari Universitas Padjadjaran menuju situs Percandian Batujaya, sebuah situs percandian yang terletak hanya 50 km dari ibukota negara. Kami berangkat pukul 7 pagi, setelah puas mengganjal perut dengan makanan yang kami beli di sekitaran kampus. Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, sampailah kami di Karawang. Kami mampir sebentar di Stadion Singaperbangsa, untuk memenuhi panggilan alam kami yang sudah sangat mendesak dan bertemu dengan narasumber kami nantinya di lapangan.

Setelah lega menyalurkan panggilan alamnya masing-masing, kami melanjutkan perjalanan ke Das Café, sebuah kafe yang terletak di bantaran sungai Citarum, hanya selemparan batu dari stadion. Disana kami disambut oleh Kang Darma, yang tadi memandu kami dari stadion ke Das Café. Kang Darma dan teman-temannya adalah penggiat kebudayaan dan lingkungan di Karawang. Mereka sangat vokal menentang banyak kegiatan industrialisasi yang bisa dibilang merusak tatanan ekologis dan juga budaya di Karawang. Setelah kami duduk dengan nyaman, Kang Darma langsung memulai penjelasannya tentang Candi Batujaya. Seperti apa kondisi candi-candi disana, bahan penyusunnya apa saja, dan masih banyak lagi. Setelah ngalor-ngidul membicarakan candi-candi dan kondisi sosial politik Karawang pada saat ini, kami memutuskan untuk langsung menuntaskan rasa penasaran di situs Percandian Batujaya.

Kami berangkat lepas Dzuhur, dengan Kang Darma  sebagai penunjuk jalan. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan pemandangan yang sangat menarik. Bagaimana Karawang yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, sekarang sekarat di tengah gempuran masuknya pabrik-pabrik perusahaan multinasional yang barangkali, menganggap Karawang sebagai lahan yang dapat menghasilkan miliaran profit untuk mereka. Semakin ke dalam, suasana semakin “ndeso”, banyak rumah-rumah kecil selayaknya di desa, dan banyak orang-orang beraktivitas di sepanjang bantaran sungai Citarum. Setelah dua jam lamanya, kami pun tiba di situs Percandian Batujaya.

Situs Percandian Batujaya adalah sebuah situs percandian Buddha yang terletak di ujung utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Secara administratif, situs ini terletak di dua wilayah desa: Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya. Situs ini tersebar di antara persawahan dan sebagiannya lagi tersebar di antara pemukiman warga. Luas situs ini diperkirakan sekitar 5 km2. Situs ini letaknya hanya 6 km dari pesisir utara Jawa dan 500 m di utara sungai Citarum. Situs ini disebut situs percandian karena ditemukan banyak sisa candi-candi, bukan hanya satu atau dua candi saja.

Pertama-tama, kami dipandu oleh Pak Lili mengunjungi Museum Situs Cagar Budaya Batujaya. Di sana terdapat banyak peninggalan-peninggalan yang ditemukan di sekitar Situs Batujaya dan juga Situs Cibuaya, seperti arca dan kerangka-kerangka manusia. Kami mulai dapat mereka-reka seperti apa kondisi situs percandian ini ketika ditemukan, dan juga mulai sedikit berimajinasi liar tentang seperti apa kehidupan peradaban zaman dulu di situs ini. Pak Lili banyak membantu kami dalam berimajinasi, dan tak lupa kami juga bertanya kepada beliau tentang kondisi museum dan juga situs percandian Batujaya ini. Kabar yang cukup melegakan kami ketika mendengar dari beliau bahwa atensi Pemkot Karawang terhadap museum dan situs ini cukup baik, walaupun kami merasa bahwa museum ini terlampau kecil untuk memuat informasi-informasi dan juga menampung artefak-artefak lainnya yang bisa saja di masa depan kembali ditemukan.

Perjalanan kami berlanjut ke Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Dipandu oleh Kang Darma, kami serasa melakukan perjalanan waktu ke masa candi-candi ini berdiri dengan megah. Sembari dimanja oleh alam sekitar, Kang Darma terus bercerita tentang seperti Candi Jiwa. Candi ini dinamakan Candi Jiwa karena konon, ketika candi ini masih berbentuk gundukan tanah dan disebut unur oleh penduduk setempat, setiap warga yang mengangon domba di atas unur tersebut pasti mendapati dombanya mati setelah memakan rumput yang terdapat di atas unur tersebut. Setelah berbagi cerita tentang “keangkeran” Candi Jiwa, Kang Darma melanjutkan penjelasannya tentang Candi Jiwa.

Candi Jiwa berbentuk seperti teratai apabila dilihat dari atas, simbol dari filosofi Upanisad. Candi ini dibangun menggunakan batu bata yang dilapisi kapur, kemungkinan manusia pada saat itu sudah paham apabila daerah yang mereka tempati memiliki daya erosi yang tinggi. Di dalam batu bata bahan penyusun candi ini, dapat kita temukan sekam yang berfungsi menjaga daya rekat tanah lempung/aluvial agar tidak pecah saat proses pembakaran.  Candi Jiwa pada zaman dahulu berfungsi sebagai tempat persembahan dan tempat peribadatan umat Buddha. Beberapa hipotesa mengatakan bahwa Candi Jiwa merupakan peninggalan kerajaan Tarumanegara, sayangnya belum ada bukti tertulis berupa prasasti yang dapat membuktikan hipotesa tersebut. Di bawah Candi Jiwa, terdapat votive (lempeng mantra yang berfungsi untuk menolak bala, biasanya diletakkan pada saat awal pembangunan candi) yang terbuat dari emas. Sayangnya, saat ditemukan oleh peneliti dari Prancis, lempeng emas itu “dipinjam” oleh sang peneliti, tentu saja, dibawa ke Prancis dan sampai saat ini belum dikembalikan.

Setelah puas menikmati pemandangan yang disuguhkan Candi Jiwa, kami melanjutkan perjalan kami ke Candi Blandongan. Di tengah perjalanan, kami mampir sejenak di suatu tanah lapang di antara Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Di tanah lapang itu terdapat sebuah lempeng batu yang sangat ringan dan juga sebuah sumur. Sumur ini merupakan sumur tua peninggalan peradaban kerajaan yang membangun situs percandian ini. Rasa airnya tawar, sebuah kejanggalan mengingat kami berada di daerah berair payau. Kami sempat melepas dahaga dan mencuci muka menggunakan air sumur ini. Sumur ini bisa dibilang cukup terawat, walaupun hanya dinaungi atap dari seng dan dibatasi oleh dinding setinggi dada orang dewasa yang terbuat dari seng pula. Setelah puas menyegarkan diri dan mengamati banyak kepingan gerabah yang dapat kami temukan di tanah lapang itu, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Candi Blandongan.

Di Candi Blandongan, kami kembali mendengarkan penjelasan dari Kang Darma mengenai Candi Blandongan ini. Candi Blandongan ini terletak sekitar 500 meter dari Candi Jiwa. Candi Blandongan, atau Candi Segaran V merupakan candi terbesar di antara candi-candi yang sudah diekskavasi dan dipugar. Candi ini diklaim terbuat dari “beton kuno”, campuran dari batu kapur, kerikil-kerikil kecil, dan air yang membentuk batuan penyusun candi tersebut. Membayangkannya saja kami sudah tercengang, mengingat informasi dari Kang Darma yang mengatakan bahwa kapur terdekat pada masa itu dapat ditemukan di Gunung Sanggabuana, kurang lebih sekitar delapan puluh kilometer dari situs percandian ini. Tak terpikir oleh kami bagaimana nenek moyang pembangun candi ini membawa batuan-batuan kapur yang berat hanya menggunakan perahu dan harus mengawali perjalanan mereka dengan melawan arus sungai Citarum terlebih dahulu. Di sekitar Candi Blandongan terdapat banyak danau-danau kecil yang digunakan menjadi tempat bermain bagi anak-anak kampung sekitar.

Setelah kenyang mendengar penjelasan tentang Candi Jiwa dan Candi Blandongan, kami melanjutkan perjalanan kami ke beberapa candi-candi yang tersebar di antara pemukiman warga dan areal persawahan. Kami tidak akan melanjutkan cerita kami disini, karena menurut hemat kami, cukuplah kami yang keheranan melihat sebuah candi yang belum diekskavasi dan belum dipugar hidup berdampingan dengan sebuah meja biliar yang menjadi hiburan andalan warga di sekitarnya. Cukuplah kami yang melihat betapa warga di areal situs percandian menghidupi candi-candi itu secara swadaya, cerita Pak Lili seakan kontras dengan cerita Pak Iih, seorang petani yang lahir dan besar di areal situs percandian Batujaya.

Betapa tidak, untuk mengekskavasi dan mempugar satu candi saja dibutuhkan dana sekitar Rp1.500.000.000,00. Belum lagi harga ganti rugi bangunan dan tanah yang semakin hari semakin mahal, tentu pemerintah berpikir dua kali untuk mengucurkan dana ke situs percandian Batujaya ini. Padahal, jika dipikir lagi, tempat seperti situs percandian Batujaya ini bisa menghasilkan devisa bagi negara yang tidak sedikit. Setiap Waisak, situs percandian ini dipadati oleh wisatawan rohani yang ingin menunaikan ibadah tahunan mereka. Tentu langkah yang sangat bijak apabila pemerintah berani mengucurkan dana lebih untuk mempopulerkan situs percandian Batujaya sebagai salah satu destinasi wisata rohani yang tidak kalah dengan Candi Borobudur.

Setelah kenyang menyaksikan keanehan-keanehan yang terdapat di areal situs percandian Batujaya ini, kami memutuskan untuk pulang pada petang itu. Sebuah kunjungan wisata edukasi yang dimulai dengan ceria dan gembira, mau tak mau harus kami tutup dengan beberapa pertanyaan. Kemanakah pemerintah saat candi ini ditemukan dan butuh penelitian lebih lanjut? Mengapa kesan terlantar cukup banyak kami temukan di candi-candi yang ada di situs percandian ini? Apakah pemerintah tega membiarkan para petani dan warga di sekitar situs percandian ini mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk urunan mengurus candi-candi yang mereka banggakan? Ah, sudahlah. Terlalu banyak pertanyaan. Kami sudah mengantuk. Toh, kalaupun pemerintah membaca laporan perjalanan kami ini, apakah mereka akan cepat tanggap dan meneruskan penelitian yang ada di situs percandian Batujaya ini?

 

 

Jatinangor, 26 Maret 2018