Belajar Menyederhana dari Kaum Sinis Athena


Sayyidatiihayaa Afra Geubrina Raseukiy || Fakultas Hukum 2015

“Betapa banyak benda yang tidak kuperlukan.” —Socrates.
Aliran filsafat Sinis pertama kali muncul di Athena pada sekitar 400 SM. Dikembangkan oleh seorang murid Socrates, Antisthenes, yang sangat kagum pada kesederhaannya. Kaum Sinis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak terdapat dalam kelebihan lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kepuasan terhadap pencapaian atas satu hal. Kebahagiaan sejati terletak pada ketidaktergantungan pada segala sesuatu yang acak dan mengambang. Disadari bahwa peraihan atas kebahagiaan yang demikian sangat sulit didapatkan ketika hal tersebut berbenturan dengan gairah manusia atas banyak pencapaian. Namun, begitu berhasil diraih, ia tidak akan pernah lepas lagi. Kaum Sinis menekankan pada pencapaian atas esensi dari kesederhanaan yang dimilikinya. Terlepas dari semua kekayaan materil Kaum Sinis, mereka percaya bahwa tidak ada yang boleh menganggu mereka dari kebahagiaan atas ketidaktergantungan pada satu hal untuk dapat membuat mereka berbahagia.
Sebagai manusia yang hidup pada abad ke-21, ketergantungan atas satu hal rasa-rasanya menjadi hal wajar. Ketergantungan terhadap koleksi tas atau sepatu, atas kopi atau batangan rokok, atas musik atau puisi, atas handphone keluaran terbaru atau make up dan lain sebagainya, rasanya menjadi hal yang sangat biasa. Kecenderungan manusia untuk membeli banyak benda sebagai pelengkap dirinya dapat dipahami sebagai bentuk pemenuhan atas diri. Ditambah masifnya pergerakan mode dan style ikut mendorong kecenderungan manusia terhadap satu atau lebih komoditi yang lagi dan lagi dipergunakan untuk melengkapi dirinya. Pertanyaan selanjutnya adalah, sungguh kah kita memerlukan mereka? Belum kah kita menjadi manusia yang utuh sehingga masih butuh melengkapi diri dengan benda-benda yang peruntukkannya barangkali tidak benar-benar menjadi kebutuhan?
Konon, Socrates sedang berdiri menatap sebuah kedai yang menjual berbagai macam barang. Ia tersenyum lalu akhirnya ia berkata, “betapa banyak benda yang tidak kuperlukan”. Jika dibandingkan dengan kecenderungan manusia era sekarang, menatap sebuah kedai berarti akan bersiap dengan paper bag yang penuh dengan berbagai macam benda, dan plastik-plastik yang berisi barang-barang yang akan siap memepercantik penampilan diri, serta dengan tagihan kartu keredit yang semakin mendekati limit. Perusahaan-perusahaan raksasa berlomba-lomba memenuhi hasrat masyarakat dengan membuat berbagai macam produk untuk dibeli, sedangkan masyarakat berlomba-lomba menjadi kaya, memiliki dompet yang penuh dengan kertas-kertas dan kartu-kartu debit. Kita semua menjadi jauh dengan kesederhanaan, terpisahkan oleh ambisi dan derungan desir dada tentang deifinisi bahagia. Bahwa bahagia berarti melengkapi diri dengan model ponsel genggam terbaru atau mencocokkan kaki dengan sepatu super mahal supaya terlihat gagah dan menawan. Kelas-kelas sosial terbentuk, kita menjadi begitu jauh dari esensi dalam membentuk sebuah pertahanan diri yang berbahagia. Sangat jauh dengan sederhana. Ketergantungan terhadap sesuatu yang mengambang pun menjadi nyata.
Suatu ketika diceritakan Diogenes, seorang murid Antisthenes, yang hidup dalam sebuah tong dan tidak memiliki apapun kecuali mantel, sebuah tongkat, dan kantong roti. Beliau didatangi oleh Alexander Agung. Sang Maharaja berdiri di hadapan Diogenes, ketika ia sedang duduk menghadap matahari di samping tongnya dan bertanya apakah dia (Alexander Agung) dapat melakukan sesuatu untuk Diogenes, “Ya” Diogenes menjawab, “Bergeserlah ke samping, Anda menghalangi matahari”, dengan demikian dia membuktikan bahwa dia tidak kalah kaya dibandingkan dengan pria agung di hadapannya. Dia memiliki segalanya yang dia butuhkan. Dia memiliki dirinya—sebagai hal yang paling sulit untuk dikenali, dikendalikan dan didapatkan—untuk berbahagia dalam kesederhanaannya. Dia memiliki segalanya meski ia terlihat begitu miskin dan menyedihkan. Tanpa dapat ditampakkan, ia telah merasa kaya karena berdamai dengan dirinya sebagai satu-satunya entitas yang dapat melengkapi kebahagiaannya.
Ketika menyadari bahwa kebahagiaan adalah ketidaktergantungan terhadap sesuatu yang mengambang dan tidak dapat dipahami esensinya maka akan sulit bagi orang lain untuk mencuri kebahagiaan kita. Kita berbahagia atas rumah mewah yang kita miliki, lalu seketika seseorang membakarnya, kemudian kita bersedih dan mengiba. Itu pertanda bahwa kebahagiaan kita telah berhasil dicuri. Kita luput dari esensi bahwa rumah berarti tempat untuk berlindung dari panas dan hujan, maka sejatinya kita dapat bersembunyi dari panas dan hujan dimanapun kita menemukan atap. Sulit sekali mencuri kebahagiaan dari mereka yang telah menemukan esensi dari kesederhanaan yang dihidupinya.
Sebagai bentuk yang kontekstual, sebagai manusia yang hidup pada stage menjadi mahasiswa dan dewasa muda. Setidaknya, berpikir menjadi sebuah kemutlakkan. Internalisasi terhadap apa yang kita butuhkan, apa yang harus dicapai dan bagaimana menjalani kehidupan secara optimal dan efektif menjadi sebuah tantangan. Sejatinya, kita terombang-ambing dalam ketidakpastian. Maka banyak orang menjadi begitu berbeda, cara pikir, pola hidup, serta pemaknaan terhadap keberlangsungan aktivitasnya.
Namun, hemat penulis, satu hal yang perlu kita sadari bahwa, kebahagiaan tidak dapat diukur dari apa yang terlihat. Karena ia jauh ada di dalam diri, tertanam dan melekat jauh pada sebuah segmen dalam jiwa. Sekiranya, kita tidak perlu menjadi miskin untuk dapat sederhana, atau menjadi nestapa untuk mengerti kesederhanaan, cukup berdamai dan memaknai keperluan atas hidup. Sebab, hanya dengan cara itu lah kebahagiaan tidak akan mudah untuk dicuri. Kita selalu perlu untuk belajar menjadi sederhana.